Usia 3 th, Baru Bisa Jalan & Bicara
Monday, 10 March 2008
 

Kesi Suci Handayani dan Siswadi

USIA 3 TAHUN MISBACH BARU BISA JALAN DAN BICARA

Enam bulan usia Misbach, namun ia belum mampu mengangkat kepala. Ia cuma tergolek tanpa daya di pembaringan. Bahkan sampai Misbach berumur 2 setengah tahun ia masih belum bisa bicara dan berjalan. Sudah lebih sepuluh tempat kudatangi untuk mengobati Misbach, tetapi tak satupun yang menampakkan kemajuan. Baru setelah berobat di klinik Pak Juanda, di ketahui, Misbach mengidap TORCH. CMVnya sampai 2200. Enam bulan setelah berobat, Misbach mampu bicara dan berjalan.

Betapa paniknya kami sebagai orangtua, melihat anaknya yang berusia 6 bulan masih tergeletak bagai bayi. Seharusnya Misbach sudah telungkup dan duduk seperti bayi normal umumnya. Anak seusia Misbach yang normal, tentu sudah mulai “berkicau” setiap pagi, dan gerakan aktifnya mampu mendorong syaraf geraknya. Tetapi tidak demikian dengan anak kami, meski ia lahir normal dengan berat 3,5 Kg dan panjang 51 cm, tetapi tak nampak pertumbuhannya. Sampai usia 6 bulan, ia tak mampu bergerak aktif. Padahal tak ada tanda-tanda cacat fisik sejak ia lahir. Apa yang terjadi pada anakku?

MENEMPUH BERBAGAI PENGOBATAN

Saat usia 3 bulan Misbach tak mampu mengangkat kepala. Aku mulai menaruh kecurigaan. Aku yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di UNS, segera  membawanya konsultasi ke dokter spesialis. Aku dan suami membawa Misbach ke YPAC. Setelah USG, dokter  mengatakan, “Kondisi Misbach ini karena bawaan bayi.” Ada rasa tenang sesaat, namun kegelisahan yang memenuhi dada, tak mampu kami sembunyikan, apakagi  terapi yang kami lakukan tak membawa kemajuan.  Setelah usia satu setengah tahun, aku dan suami tak pernah berhenti mengajaknya ke dokter. Dari dokter yang satu pindah ke dokter yang lain. Setiap ada saudara yang bicara tentang tempat pengobatan, aku langsung ke sana. Ada sekitar 10 tempat yang pernah kami datangi. Kami membawa Misbach ke Kyai Umar di Solo untukdi pijat.

Kemudian ke Karang Anyar pada Pak Suwardi. Beliau mendeteksi Misbach dengan diagnosa toxo. Setiap ada hal yang baru, kami senang. Dengan demikian proses pengobatan Misbach dapat diprediksi dengan baik. Sebelum ke Karang Anyar, kami membawa Misbach ke Imugiri. Deteksi pengobatannya melalui helai rambut dan kuku. Pak Djoko yang mengobati Misbach menyatakan, fungsi otak Misbach rusak kena virus. Setelah dilakukan EEG,  terlihat titik-titik otak di kepala Misbach sudah dihinggapi virus. Dokter lain menyimpulkan melalui CT Scan, diketahui otak kanan yang seharusnya ada skat-skat tidak dimiliki oleh anakku. “Karena umurnya sudah lebih satu tahun, perkembangan sel otak sudah sedikit.  Kita berdoa saja untuk kesembuhannya,” ujar dokter.

Kami melakukan pengobatan Misbach selama 6 bulan. Dari Solo ke Yogyakarta, seminggu 2 kali mengantar terapi, bukan hal yang mudah. Setiap bulan Misbach harus cek darah. Namun tidak ada kemajuan. Virusnya tidak pernah lenyap. Sebelum ke Imogiri, kami sudah membawa Misbach ke laboratorium Prodia. CMV-nya memang tinggi, 2200. Setelah 6 bulan tak ada kemajuan, kami memutuskan mencari solusi lain. Kami mengantar Misbach ke dokter ahli virus di Yogyakarta. Misbach langsung disuruh opname di rumah sakit Sarjito. Ia diberi obat glasivoir 2 paket. Dokter bilang, obat itu mengandung resiko gagal ginjal. Maka setelah 1 paket diberikan pada Misbach, dokter segera mengecek ginjalnya.

Alhamdulillah, masih kuat. Selama 4 hari Misbach akan menerima 2 paket pengobatan. Setiap ampul obat yang masuk di tubuhnya, selain gagal ginjal, ia terancam dehidrasi. Selama 4 hari, Misbach terbaring dengan jarum infus. Dokter memvonis, kemungkinan Misbach cacat otak. Keluarga pasien-pasien lain yang menunggu di rumah sakit saling bertukar cerita. Mereka memberi informasi tentang pengobatan TORCH Pak Juanda. Karena anak kami terkena virus TORCH, mereka menyarankan agar aku datang pada Prof. Juanda.

Misbach tengah berusia dua setengah tahun waktu itu. Aku meneruskan pengobatan medis ini karena sudah terlanjur. Dalam hati aku sudah bertekad, mencari Pak Juanda untuk konsultasi.  

TERNYATA AKU JUGA MENGIDAP  CMV

Diam-diam aku mencari Pak Juanda. Namun aku harus kecewa, karena  saat itu bukan jadwal pengobatannya, jadi beliau tidak ada. Aku harus kembali minggu depan, sesuai jadwal prakteknya. Aku tidak membawa Misbach, tetapi cukup gambaran hasil laboratorium.

Setelah konsultasi, Pak Juanda memberikan ramuan yang harus di minum 30cc-80cc untuk anak yang masih kecil. Setiap pagi dengan telaten aku meminumkannya. Setelah 6 bulan CMV Misbach turun dari 2200 menjadi 900. Sewaktu Misbach dalam pengobatan Pak Juanda, aku pun disarankan oleh Pak Juanda untuk memeriksa TORCH. Ketahuan CMV-ku mencapai 2000, ditambah Rubella yang cukup tinggi. Baru aku sadar,  memang aku sering pusing, bahkan kalau sedang pusing, sampai tidak bisa bangun.

Sebetulnya banyak yang belum kupahami berkaitan dengan TORCH. Saat aku hamil kedua, janin yang kukandung gugur pada usia 2 bulan. Tapi aku tidak tahu, bahwa yamng menyebabkan aku keguguran adalah virus CMV. Aku dan Misbach sama-sama mengonsumsi Aquatreat Therapy, ramuan Pak Juanda. Tiga bulan minum Aquatreat Therapy, aku kembali ke laboratorium untuk uji darah, hasilnya negatif. Pak Juanda membolehkan untuk hamil.

Namun saat itu aku belum ingin hamil. Aku masih ingin mencurahkan perhatian pada amakku. Agaknya Tuhan memberi karunia, tak lama kemudian, aku positif hamil. Tak dapat kuhindari aku harus datang kembali pada Pak Juanda untuk minum obat selama masa kehamilan. Mudah-mudahan ini menjadi kehamilan yang sehat dan kelak mendapat anak yang sehat pula.

BERJALAN PADA USIA 3 TAHUN

Setelah 7 bulan mengonsumsi Aquatreat Therapy, kondisi Misbach tampak jauh membaik. Ia mulai menampakkan gerakan-gerakan yang positif. Misbach mulai ngesot, dan tampak keinginannya untuk berdiri meski berulangkali harus jatuh lagi. Aku melanjutkan latihan Fisioterapi di YPAC.  Semangat dan keinginanku hanya satu, yakni Misbach dapat berjalan dan berbicara seperti anak-anak normal lainnya. Sudah lebih 3 tahun usianya, namun ia bagai anak bayi saja.

Suatu malam saat lampu mati, aku segera menghidupkan lilin. Tidak pernah kusangka nyala lilin ternyata mampu membangkitkan semangatnya untuk berdiri dan berjalan. Misbach mengejar nyala lilin. Ya Allah, malam itu aku dan Mas Siswadi menitikkan air mata, terharu, bersyukur kepada Allah, akhirnya Misbach bisa berdiri dan berjalan.

Aku segera melatihnya dengan terus menerus menyalakan lilin di sana sini. Aku melatihnya sendiri. Aku dan  suamiku tak pernah lelah memberi motivasi. Kerapkali Misbach diikat dengan stagen lalu melangkah satu demi satu. Mas Sis juga membuatkan kayu berputar, untuk latihan Misbach melangkah. Dari YPAC kami disarankan membuat sepatu besi, namun itu terlampau berat bagi Misbach, akhirnya ia hanya memakai sebentar saja.

Setelah bisa berjalan, Misbach mulai mampu berbicara, menggerak-gerakkan bibirnya, berdesah dan meluncur kata-kata yang biasa diucapkan anak-anak yang baru mulai bicara. Aku sering terkaget-kaget mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Misbach. Secara langsung dia tidak kuajari, tetapi peranan tetangga, teman-teman sepermainan yang atensi pada Misbach, mendorong ia mampu berkomunikasi.

Misbach yang lahir 4 nopember 2000, kini sudah berusia 5 tahun. Dia duduk di bangku TK. Mestinya, tahun lalu ia sudah bisa masuk TK, namun saat itu, ia baru mulai bisa berjalan, aku cemas kalau nanti sering terjatuh di sekolah, atau ada teman-teman sekolahnya yang bercanda dan mendorongnya. Meski dia lahir 5 tahun yang lalu, tetapi Mas Sis menganggapnya, Misbach baru terlahir tanggal 23 Februari 2003, Pukul 17.00, karena pada hari itu Misbach mulai berjalan, melangkah satu demi satu, menyemai harapan indah masa depan.

Keletihan dalam perjalanan menyembuhkan Misbach terhapus sudah. Rasa syukur bahagia memasuki jiwa. Aku teringat nasihat-nasihat yang sempat kurenungi, “Kalau bapak ibunya bisa berjalan, nanti anaknya juga akan jalan,”  ucap seseorang. Aku lupa siapa yang mengucapkannya, tetapi kata-kata yang banyak diucapkan orang itu, biar menjadi doa yang di kabulkan Tuhan.

Ketabahan luar biasa yang kubangun selama penyembuhan Misbach, tak luput dari pasang surut suasana hati. Kadang aku putus asa, lalu M Sis memberi semangat. Kerapkali juga Mas Sis yamh mau menyerah, tetapi aku memacu tekadnya. Ada orang-orang yang tidak yakin, Misbach dapat berjalan, tetapi aku dan Mas Sis selalu yakin, sesuatu yang mustahil bisa terjadi atas kehendak yang Maha kuasa. Maka tak heran, setiap ketemu saudara, teman, kenalan, aku selalu minta di doakan.

Ada 3 faktor untuk mengatasi cobaan yang berat ini. Yang pertama adalah persediaan dana, lalu kemauan dan menyediakan waktu untuk berobat. Untuk kesembuhan Misbach,  ketiga hal itu Insya Allah menjadi kunci  yang mujarab. Selama itu toleransi teman-teman sesama profesi di kampus sangat ku hargai. Mereka memaklumi permasalahan yang tengah kuhadapi. Sebagai dosen, adakalanya aku izin, atau hanya datang pada saat-saat mengajar. Apalagi waktu itu selama 6 bulan aku hanya mengantar Misbach berobat ke Imogiri, pengorbanan dana, waktu, pikiran dan tenaga tak ada artinya dibandingkan dengan kesembuhan anakku. Zikir, doa, dan tahajud, yang tak pernah henti kulakukan, semata-mata hanya mengharap pertolongan Allah untuk amanah, titipan yang telah di percayakan ke dalam asuhanku.

Terimakasih Ilahi, karena berkat rahmat-Nya aku dan Mas Sis, bisa ketemu Pak Juanda, yang menjadi tangan penolong, menyembuhkan Misbach menjadi anak yang normal seperti anak-anak seusianya.


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
 T          3A6      
TD     D      O   73O
 E    F6A   FWG      
 2     E    G     UKT
GO2         MS1      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved