Yulius Eka Putra DEPRESI KARENA ISTRI TERINFEKSI VIRUS TOXO  Mengetahui isterinya keguguran akibat virus toxo, Yulius (37) jadi kalut. Pikirannya dihantui bayangan buruk anak-anaknya kelak akan lahir cacat, atau sama sekali terancam tidak memiliki keturunan. Semangat hidupnya pudar. Laki-laki ini bagai terbelenggu dalam kepedihan yang mendalam. Hatinya terpukul. Melalui seorang Kyai, akhirnya ia kembali tegar. Apalagi setelah pertemuannya dengan Pak Juanda. Aquatreat Therapy yang dikonsumsi oleh Evi Nurwini, isteri Yulius, ternyata membawa kesembuhan. Yulius bahagia mereka akhirnya dikaruniai dua anak laki-laki yang lahir sempurna dan tumbuh sehat.
Sekitar lima bulan setelah kami menikah, isteriku mengutarakan dirinya tengah mengandung. Waktu itu sekitar Mei tahun 2000. Kabar tentang kehamilannya tentu saja merupakan berita yang menggembirakan. Meski keadaan ekonomi rumah tangga kami belum memadai untuk segera memiliki keturunan, sebagai pasangan muda, kami tetap mensyukuri hasil buah cinta ini dengan perasaan berbunga-bunga. Kabar menggembirakan itu turut memacu semangat hidupku. Untuk memastikan kehamilannya, aku membawa Evi Nurwini, demikian nama lengkap istriku ke rumah sakit bersalin. Dokter memastikan istriku memang tengah mengandung. Ada rasa haru menyertai bahagia mendengar kepastian dokter. Sebagai calon ayah yang memiliki penghasilan pas-pasan, aku harus mencari tambahan penghasilan. Selain bekerja di kantor, aku mulai menjalani bisnis kecil-kecilan. Aku berharap istri dan anak-anakku kelak bisa menikmati hasil jerih payahku lebih dari yang kami butuhkan. Semenjak Wini berbadan dua, rasa sayangku terhadapnya semakin bertambah. Tiap hari aku selalu menanyakan kesehatannya. Aku khawatir kehamilan Wini, membuat dirinya merasa tidak nyaman. Kekhawatiranku ternyata terlalu berlebihan, Wini tidak seperti yang aku risaukan. Dalam keadaan hamil ia masih tetap menjalankan pekerjaan rumah seperti biasanya. Tuhan memberikan aku seorang istri yang baik. Awal kehamilannya, Wini jarang meminta yang aneh-aneh, seperti wanita yang sedang ngidam pada umumnya. Hanya sesekali saja ia mengeluh kepalanya suka terasa pusing, itupun mudah hilang jika sudah dibawa tidur. Meski kehamilannya sudah tiga bulan, namun secara fisik Wini tidak banyak berubah. Tubuhnya tampak kecil, karena memang ia tidak suka makan. Hari terus berganti, usia kehamilan Wini semakin bertambah. Seperti biasa setiap bulan, aku yang mengantarnya ke dokter kandungan. Sebagai calon ayah, aku sudah membayangkan kebahagiaan yang kelak akan dirasakan dengan kehadiran anak-anak kami. Rumah kami yang sempit serta merta akan bertambah ramai dengan kehadiran sosok mungil itu. Tidak itu saja, statusku bertambah. Tidak hanya sebagai suami, aku akan memanggil diriku dengan sebutan ayah. Kebahagiaan itu selalu hadir menyertai hari-hariku. Bagiku kehadiran seorang anak, sekaligus pertanda diriku laki-laki sehat dan sempurna. KEGUGURAN PADA USIA KANDUNGAN LIMA BULAN Memasuki usia kehamilan 4 bulan, tubuh Wini kelihatan mulai berisi. Apalagi perutnya sudah semakin membuncit. Semakin hari aku semakin tak sabar menantikan datangnya hari bahagia itu. Meskipun usia kehamilan Wini baru menginjak empat bulan, aku sudah menyiapkan beberapa nama bagi calon bayi kami, nama laki-laki, maupun perempuan. Orangtua Wini tak kalah bahagianya mendengar kehamilan anak pertamanya. Wini diharapkan akan mempersembahkan cucu pertama bagi keluarga besar orangtuanya. Setiap kali aku membawa Wini kontrol, dokter sudah menentukan jadwal pemeriksaan kehamilan selanjutnya. Setiap jadwal kontrol, aku selalu pulang kantor lebih awal. Rasanya aku ingin selalu berdua untuk melewati masa-masa penantian itu bersama-sama. Ketika usia kandungan Wini sudah memasuki usia lima bulan, aku kembali mengantarnya ke dokter. Dokter menyambut kehadiran kami dengan senyum ramah. Saat berada di ruang praktek, suster membaringkan tubuh Wini di tempat tidur. Dokter kemudian memeriksa perutnya dengan teliti, dan mendengarkan detak jantung bayi. Beberapa saat kemudian, aku melihat seperti ada sesuatu yang tidak beres pada kondisi Wini. Dokter beberapa kali memeriksa perutnya. Sekilas aku mendengar perkataannya kepada suster, dokter sama sekali tidak mendengar denyut nadi dalam rahim Wini. Untuk mengetahui kondisi yang sesungguhnya, dokter memutuskan Wini diopname. Malam itu pemeriksaan dilanjutkan kembali. Kali ini pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih. Rupanya sesuatu telah terjadi pada kehamilan Wini. Aku mulai curiga, jangan-jangan ini pertanda buruk. Dokter kembali memeriksa kandungan Wini. Setelah yakin apa yang terjadi, dokter memaparkan kepastiannya bahwa bayi dalam kandungan Wini sudah tidak bernyawa. Aku tahu Wini merasa terpukul mendengar berita itu, aku pun turut larut dalam kesedihan. Bayang-bayang akan hadirnya sang buah hati tiba-tiba lenyap dalam sesaat. Keesokan harinya Wini dikuret. Ini adalah suatu kenyataan yang semakin membuat diriku bertambah sedih. Hari itu juga Wini sudah diijinkan kembali ke rumah. Dokter menegaskan akan menyelidiki penyebab keguguran istriku. Aku dan Wini sudah tak menghiraukan lagi perkataan dokter. Pikiran kami tengah bergumul antara sedih dan kecewa. TOXO BISA MEMBUAT BAYI CACAT Dua minggu kemudian, dokter menyampaikan hasil uji darah istriku. Menurutnya keguguran Wini diakibatkan oleh virus TORCH, Toxo, rubella, CMV dan Herpes. Dokter kemudian memberi sejumlah obat untuk diminum selama tiga bulan. Sementara virusnya diobati, Wini dilarang hamil. Bagaikan tersengat halilintar aku mendengar perkataan toxoplasma yang diucapkan oleh dokter. Benarkah itu penyebabnya? Tiba-tiba aku teringat pada nasib seorang teman yang mempunyai anak cacat, karena isterinya mengalami toxoplasma. Jangankan memiliki anak cacat, membayangkannya saja aku sudah ngeri. Pikiranku semakin hari semakin kalut dan bingung. Bila penyebabnya toxo, mungkin kami tidak akan memiliki keturunan. Seandainya Wini hamil, kami harus menanggung resiko yang amat berat. Memiliki keturunan dengan kelainan fisik dan mental, atau keguguran lagi. Membayangkan resiko yang ditimbulkan oleh virus toxo, semakin hari pikiranku semakin bertambah kalut. Ya Tuhan dosa apakah yang telah kami lakukan selama ini? Kenapa begitu berat cobaan yang dilimpahkan kepada kami? Begitu jerit hatiku sepanjang hari. Semenjak istriku ketahuan mengidap toxo, gairah hidupku seakan hilang. Bayang-bayang mengerikan itu terus menghantui pikiranku. Selain ngeri, pikiranku menjadi kacau tak karuan. Aku cemas bila tidak memiliki keturunan. Kubayangkan betapa sepinya rumah kami. Setiap kali bayangan itu hadir, aku benar-benar terpukul. Aku jadi malas masuk kantor. Aku lebih banyak melamun di rumah. Makanpun rasanya tidak selera, berat badanku sampai melorot kurus. Apalagi kata dokter virus toxo tidak bisa disembuhkan. Obat yang diberikan kepada Wini hanya berfungsi menghambat jangan sampai virusnya semakin berkembang. Siapa yang tidak sedih membayangkan akan memiliki anak cacat. Bayangan menakutkan ini membuatku mengalami depresi berat. Melihat situasi depresi pada diriku, banyak famili yang datang menghibur. Kedatangan mereka tidak banyak membantu keadaanku. Aku masih tetap larut dalam kesedihan. Sampai suatu ketika kakak mengajakku mendatangi rumah seorang Kyai. Setelah kurang lebih tiga bulan bolak-balik ke sana, keadaanku semakin membaik.Percaya diriku mulai tumbuh kembali. Ketika itu setiap malam aku terus berdoa memohon kepada Tuhan agar kami bisa memiliki keturunan yang sehat. Suatu hari aku dan istri mengunjungi orangtua di Palembang, kakak isteriku memberikan majalah di mana pada salah satu artikelnya ada nama Pak Juanda yang dapat mengobati virus toxoplasma yang sering menyerang ibu hamil. Sehabis membaca Wini menceritakan perihal Pak Juanda yang telah berhasil menyembuhkan para penderita toxo dengan racikannya berupa Aquatreat Therapy. Mendengar hal itu aku jadi penasaran. Sepulang ke Bekasi, rupanya istriku yang ternyata mulai hamil tiba-tiba menjadi cemas. Khawatir apa yang kami takutkan selama ini menjadi kenyataan. Apalagi istriku sempat mengalami flek. Aku langsung membawa Wini menemui Pak Juanda. Kami tunjukkan hasil laboratorium yang telah ada sebelumnya. Pak Juanda menyarankan selain Wini kontrol ke dokter kandungan, kami berdua diharuskan minum Aquatreat Therapy selama kehamilan Wini. Setelah bertemu Pak Juanda, aku semakin yakin Wini dapat sembuh dari toxo-nya. Setiap pagi kami berdua rutin minum Aquatreat Therapy. Meskipun cairan itu rasanya agak aneh, Wini selalu disiplin meminumnya. Setelah dua minggu kami minum Aquatreat Therapy, Wini tidak mengalami flek lagi. Menurut dokter kandungan, Wini tidak mengalami masalah. Aku terus berdoa agar harapan kami memiliki keturunan yang sehat dapat terkabul. Dua bulan kehamilannya, aku minta supaya Wini menjalani USG. Ternyata bayi kami berkembang dengan baik. Setiap sebulan sekali Wini rutin menjalani USG. Kepada dokter kami tidak menceritakan tentang obat Pak Juanda yang diminum Wini setiap hari. Saat melahirkan tiba, istriku ternyata harus menjalani operasi caesar. Tak terbayang betapa bahagianya kami berdua menantikan datangnya saat-saat kelahiran itu. Semangat hidupku bagai terpacu kembali. Muhammad Adytia Bima Sena lahir 4 Juni 2001 dalam keadaan sehat wal‘afiat. Aku langsung mengabarkan berita gembira ini kepada Pak Juanda. Beliau ikut bahagia dan bersyukur atas kelahiran bayi kami, Dua tahun berselang, Wini kembali hamil. Kekhawatiran dan kecemasan kembali memenuhi pikiranku. Kami kembali menemui Pak Juanda. Ternyata selama kehamilan yang kedua ini, istriku tidak perlu minum Aquatreat Therapy. Begitu pula dengan diriku sendiri. Pak Juanda yakin Wini sudah sehat. Kebahagiaan itu datang lagi dengan kehadiran Muhammad Kaiko yang lahir pada 5 Desember 2003. Rasanya tidak ada yang lebih bahagia jika kita dapat sembuh dari penyakit, apalagi akhirnya kami dapat memiliki dua anak laki-laki yang yang sempurna dan tumbuh sehat. Aku yakin kebahagiaan kami adalah kebahagiaan yang juga dirasakan oleh Pak Juanda. |