Sabrina Sundari S TAK PERNAH PUTUS ASA UNTUK MEMPEROLEH KETURUNAN  Meski kehamilan Sabrina sudah memasuki usia tujuh bulan, bayi dalam kandungannya tidak juga berkembang. Dugaan dokter, telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Ternyata terbukti, sesaat setelah melahirkan, bayi merah itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Setelah diselidiki penyebabnya ternyata virus toxo. Trauma, menyebabkan Sabrina sempat menunda kehamilan berikutnya. Namun ia buru-buru membatalkan niatnya, sebab menurut pemeriksaan medis, jika ditunda, dikhawatirkan ia akan sulit hamil. Berbagai upaya dilakukan agar virus ganas itu hilang. Ternyata dengan Aqua Therapy, Sabrina dapat hamil kembali. Bahkan kini ia telah dikaruniai dua buah hati yang sehat dan lucu.
Aku menikah dengan Irwan Arifin, suamiku pada 8 September 96. Seperti pasangan pengantin pada umumnya, aku ingin segera mendapat keturunan. Namun entah kenapa sudah dua tahun menikah, belum juga ada tanda-tanda aku bakal hamil. Aku mulai dihantui pikiran gelisah dan curiga, jangan-jangan di antara kami ada yang tidak beres, artinya aku tidak subur, atau suamiku yang justru menjadi penyebab. Aku mulai kasak-kusuk mencari tahu kira-kira dokter kandungan mana yang bisa dengan rinci memaparkan masalah yang aku alami ini. Suatu hari akhirnya aku menemukan dokter tempatku berkonsultasi. Dokter ahli kandungan ini kemudian menjelaskan berbagai faktor penyebab seorang wanita mengalami sulit hamil. Aku sendiri diminta untuk bersabar. Meski terus-menerus diliputi perasaan was-was, aku selalu berharap kiranya suatu hari kelak kami akan diberikan keturunan. Dua tahun tidak kunjung hamil, suatu ketika badanku terasa aneh, aku seperti demam dan mual-mual, setelah diperiksa ke dokter, Tuhan ternyata mengabulkan permohonanku untuk hamil. Betapa senangnya ketika dokter menuturkan kata-kata yang telah sekian lama aku harapkan. “Yah, ibu positif hamil.” begitu ucap dokter. Tentu aku berharap buah hati yang telah sekian lama kami tunggu-tunggu kehadirannya ini akan kami rawat dengan baik agar tumbuh sehat sebagaimana anak-anak lain. Melakukan Berbagai Tes Darah Menantikan kehamilan setelah lebih dari dua tahun, merupakan penantian yang cukup panjang bagi diriku. Hal inilah yang membuatku menjadi lebih hati-hati merawat kandunganku. Dalam doa aku selalu memohon kelak bayi dalam kandunganku tumbuh sehat dan kelahirannya bisa berjalan baik, tanpa mengalami hambatan yang berarti. Saking was-wasnya, suatu hari aku mengusulkan kepada dokter untuk dibuatkan surat pengantar tes darah. Keinginanku ini bukan tanpa alasan, sebab menurut beberapa teman, melalui tes darah bisa mencegah sedini mungkin hal-hal yang kita khawatirkan. Khususnya terhadap bayi dalam kandungan. Untunglah, ternyata hasilnya menggembirakan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kehamilanku. Itu artinya kandunganku akan tumbuh dengan sehat. Masa-masa awal kehamilan, aku tidak mengalami hambatan yang berarti. Hanya terkadang ada rasa mual . Aku masih sanggup melakukan berbagai aktivitas yang biasa aku lakukan di rumah. Bahkan sebagai dosen teknik elektro, aku masih tetap bisa mengajar di kampus almamaterku. Tentu keadaan ini amat kusyukuri. Di saat sedang sendiri, terkadang terlintas dalam benakku bayangan sosok bocah kecil yang kelak akan meramaikan suasana di rumah kami. Ternyata angan-anganku terlalu melambung jauh. Kehamilan yang kuanggap tidak bermasalah itu tenyata berubah menjadi sebaliknya. Ketika usia kandunganku memasuki bulan ke tiga, fisikku berubah lemah. Aku menjadi gampang letih. Suatu hari aku membaca tulisan tentang penyakit toxo. Dalam tulisan itu jelas dipaparkan secara rinci berbagai penyebab maupun akibat yang ditimbulkannya oleh virus toxo. Tiba-tiba aku jadi terpikir untuk melakukan tes toxo. Aku jadi menyesal mengapa sejak dulu tes darah untuk toxo tidak pernah aku lakukan. Aku menganggap enteng, sebab sejak dulu keluarga kami tidak pernah memiliki hewan piaraan. Jadi kupikir mana mungkin aku sampai tertular toxo. Ternyata dugaanku tidak meleset, dari hasil tes yang kulakukan, jelas-jelas aku terkena virus toxo. Ketika mengetahui hal itu, aku jadi panik sekali. Aku segera mencari jalan bagaimana agar virus toxo dalam tubuhku bisa secepatnya sembuh. Sebab aku tahu betapa mengerikan akibat virus yang satu ini terhadap janin yang tengah bersemi dalam rahimku. Aku mendatangi dokter ahli virus. Dokter ahli virus memberiku obat yang harus kuminum setiap hari. Semenjak sadar diriku terkena virus toxo, perhatianku hanya terpusat bagaimana agar cabang bayi dalam kandunganku tetap tumbuh sehat. Terus terang aku merasa ngeri membayangkan keganasan virus ini. Setiap kali terjadi keluhan aku segera kontrol ke dokter. Pokoknya aku ingin bayiku kelak dapat lahir dalam keadaan sehat. Penyebab dari semua ini mengakibatkan konsentrasiku sebagai dosen jadi terpecah. Aku lebih terfokus untuk keselamatan bayiku. Apalagi dokter mengatakan aku termasuk wanita yang memiliki kecendrungan sulit hamil. Tentu saja kehamilan ini harus kujaga ekstra hati-hati. Setiap hari aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah. Jadwal mengajar kubatasi. Aku sering mengurungkan niat melakukan berbagai aktivitas di luar rumah. Kalau pun terpaksa pergi, itu tak lain kontrol ke dokter. Semua ini demi menjaga kondisi fisikku yang memang semakin lemah. Menjelang usia kandungan tujuh bulan, dokter menyarankan agar aku di USG. Bayiku Mengalami Mikrocefalus Dari hasil USG dapat diketahui keadaan bayiku dalam kandungan. Menurut dokter terjadi masalah dalam kandunganku. Janinnya tidak tumbuh sempurna. “Bayinya kecil, tidak sesuai dengan usia kandunganku yang sudah menjelang tujuh bulan,” begitu jelas dokter. Mendengar hal ini tentu saja aku sedih sekali. Bukankah aku telah merawatnya dengan hati-hati. Kalau demikian halnya, masih mungkinkah bayi dalam kandunganku diselamatkan. Di hadapan dokter pikiranku menjadi galau. Aku sudah tidak tahu lagi tindakan apalagi yang harus kulakukan agar kandunganku tetap bisa terselamatkan. Melihat raut wajahku berubah sedih, dokter menghibur. “Mungkin saja ketika di USG posisi bayinya sedang melintang, sehingga tidak kelihatan secara rinci. “ katanya lagi. Namun sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terus-menerus dibayangi rasa ketakukan yang amat sangat, aku takut sesuatu akan terjadi pada cabang bayiku. Untuk lebih memastikan keadaan kandunganku yang sebenarnya, dokter kembali menyarankan agar aku melakukan USG ulang. USG yang dilakukan sekarang lebih detail. Ketika itu usia kandunganku sudah tujuh bulan. Hasilnya semakin jelas. Keadaan bayi dalam kandunganku tidak berkembang dengan sempurna. “Anak ini mengalami cacat yang cukup serius. Tengkorak kepalanya tidak tumbuh dengan sempurna. Bayi ini mengalami Mikrocefalus. Kepalanya kecil, “ jelas dokter berkepanjangan. Bagaikan petir di siang bolong ketika penjelasan demi penjelasan dipaparkannya begitu gamblang. Aku hanya mampu menangis. Hatiku begitu hancur. Musnah sudah harapanku untuk segera memiliki anak. Namun sebagai umat beragama, aku harus ikhlas menerima apapun yang ditakdirkan oleh Allah. Setiba di rumah, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan aku tidak boleh sepenuhnya meyakini apa yang dikatakan dokter. Tidakkah USG adalah alat buatan manusia. Aku tidak boleh menelan hasil USG begitu saja. Untuk lebih meyakinkan, USG kembali dilakukan di rumah sakit yang lain. Hasilnya tak jauh berbeda. Karena tetap tidak yakin, lagi-lagi masih kucoba USG di rumah sakit lain. Lagi-lagi hasilnya tetap sama. Saat itulah aku baru benar-benar terpukul. Pupus sudah harapanku untuk memiliki anak yang sehat. Dadaku sesak, hatiku menjerit pilu. Mengingat kondisi bayiku akan lahir dalam keadaan cacat, dokter menganjurkan agar sebaiknya aku melakukan terminasi. Yaitu menghentikan pertumbuhan janinku. Sungguh aku tidak rela menjalani hal itu. Aku membatin, tidakkah keajaiban bisa saja terjadi. Biarlah bayiku dilahirkan pada waktunya. Barangkali saja akan terjadi keajaiban. Pendek cerita, penghentian janin tidak jadi dilakukan. Bayiku Lahir Cacat Tanggal 17 Mei 1999, aku melahirkan melalui proses caesar. Bayiku perempuan, beratnya 2,.6 Kg dan panjang 47 Cm. Bayi itu memang terlahir dalam keadaan cacat. Tengkorak kepalanya amat kecil. Hanya sempat satu jam bayiku menghirup udara segar, setelah itu ia pergi untuk selamanya. Aku pasrah ia harus pergi menghadap Sang Khalik. Mengingat aku mengidap toxo dokter menyarankan agar sebaiknya aku menunda kehamilan. Penundaan ini tidak berlangsung lama, sebab ada kecenderungan kalau aku sulit hamil. Program KB yang semula ingin kulakukan akhirnya batal. Yang ada dalam pikiran bagaimana agar aku bisa secepatnya hamil lagi. Aku masih terus melakukan kontrol ke dokter ahli. Baik itu dokter kandungan maupun dokter ahli virus. Selama setahun aku tidak pernah putus minum obat virus. Kekhawatiran yang kurasakan, rupanya dirasakan juga oleh orangtuaku. Ibuku yang berada di Medan suatu hari mengirim sebuah majalah yang isinya memuat tentang virus toxo. Dalam majalah itu dipaparkan dengan jelas, penyebab maupun akibat dari virus toxo. Pada akhir artikel tertera alamat Pak Juanda, laki-laki dengan keahlian mengobati virus TORCH. Setelah membaca keganasan virus toxo, aku jadi semakin ketakutan. Suatu hari ibuku telepon dari Medan, aku disuruh menonton acara televisi yang saat itu tengah memaparkan masalah toxo. Ternyata orang yang kulihat dalam acara televisi itu, sama dengan yang ada di majalah, Pak Juanda. Aku penasaran dengan pengobatan yang dilakukannya. Namun aku sempat ragu, apakah mungkin ramuan yang diungkapkannya itu betul -betul dapat memberi kesembuhan. Maklum ketika itu aku tengah gencar-gencarnya kontrol ke dokter spesialis. Dan lagi aku masih terlalu lemah untuk mendatangi Pak Juanda yang beralamat di Bogor. Entah sudah berapa banyak aku konsultasi ke berbagai dokter. Aku benar-benar ingin secepatnya bisa hamil kembali. Dokter yang berada di Makmal UI, berusaha melakukan pengobatan agar aku bisa secepatnya hamil kembali. Dua tahun kemudian usahaku membuahkan hasil. Aku hamil. Ketika itu awal 2001. Ketika kehamilanku memasuki usia dua bulan, tiba-tiba aku teringat akan pengobatan virus toxo yang dilakukan oleh Pak Juanda. Aku dan suami akhirnya mendatangi Pak Juanda. Pria ini begitu ramah terhadap setiap pasien, hingga membuatku jatuh simpati. Pak Juanda membuat setiap pasiennya betah berlama-lama menanyakan berbagai hal mengenai penyakitnya. Dan kami saat itu bisa dengan leluasa berkonsultasi, bahkan sebelum meninggalkannya, kami sempat sholat berjamaah bersama. Keberadaan ini semakin memantapkan keyakinanku untuk terus berobat pada laki-laki yang bernama Pak Juanda ini. Setiap dua minggu sekali, suamiku datang ke tempat praktik Pak Juanda di Bogor untuk mengambil Aqua Therapy sesuai dengan sarannya. Walaupun mengonsumsi Aqua Therapy, Pak Juanda tidak melarang pasiennya minum obat dari dokter. Sebetulnya Pak Juanda menjamin bayiku akan tumbuh sehat, walaupun aku menghentikan obat dari dokter. Awalnya aku masih ragu. Aku tetap rutin minum Aqua Therapy dan obat dari dokter. Seperti yang sudah-sudah, setiap tiga bulan aku memperpanjang paket pengobatan dari dokter ahli virus. Namun pada tiga bulan berikutnya, aku menghentikan obat anti virus. Aku memasrahkan diri sepenuhnya kepada pengobatan Pak Juanda. Walau begitu sesekali aku masih tetap kontrol ke dokter kandungan. Ketika usia kandunganku sudah semakin besar, dokter kandungan menganjurkan agar aku melakukan USG. Mendengar perkataan USG. trauma masa lalu tiba-tiba menghantui pikiranku. Sungguh aku ngeri jika hal yang sama akan terulang kembali. Alhamdullilah, ternyata hasil USG menunjukkan janinku tumbuh dengan baik. Tanggal 27 Oktober 2001, adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan. Tuhan mengaruniai kami seorang putera yang sehat. Kami memberi nama Muhammad Haikal Aqsha. Kebahagiaan kami ketika itu sempat terusik. Masalahnya Haikal ternyata tertular virus toxo. Hal ini konon katanya dapat mempengaruhi kesehatan matanya. Sebelum hal itu terjadi, aku mematuhi saran dokter untuk secepatnya memeriksakan Haikal ke RS Aini. Selama enam kali Haikal ditangani oleh RS Aini. Setelah dianggap gejalanya sudah membaik kami pun menghentikan pengobatan. Baru Tiga Bulan Sudah Keguguran Selain Haikal ternyata Tuhan masih memberikan buah hati kami yang berikutnya. Umur Haikal baru delapan bulan, aku sudah hamil lagi. Mengingat riwayat penyakitku, aku kerap konsultasi ke dokter. Ternyata baru tiga bulan, aku keguguran. Menurut dokter keguguranku kali ini akibat bibitnya kurang baik. Aku menyesal sekali, kenapa aku sama sekali tidak konsultasi kepada Pak Juanda. Satu tahun kemudian aku hamil lagi. Kali ini aku buru-buru menghadap Pak Juanda. Aku yakin beliau dapat membantuku. Seperti ketika kehamilan Haikal, kehamilan kali ini aku kembali mengonsumsi Aqua Therapy, dan sama sekali tidak mengonsumsi obat dari dokter. Keyakinanku akan keberhasilan Pak Juanda terhadap kesehatan janinku, terbukti. Aku kembali menjalani persalinan secara normal pada 4 Oktober 2003. dengan usia kandungan 9 bulan. Anak kedua kami, seorang puteri. Bayi lahir dalam keadaan sehat. Suara tangisnya lantang. Beratnya 3.25 Kg dengan panjang 50 Cm. Namun lagi-lagi kami masih dihadang masalah. Dzika Azizah Khairunnisa, begitu nama lengkapnya, juga terkena virus toxo bawaan dari ibunya. Seperti Haikal, Azizah pun segera kami bawa ke RS mata Aini. Untunglah pengobatan matanya tidak selama yang dialami oleh Haikal. Dokter mengatakan Insya Allah penglihatan Azizah akan baik-baik saja. Kini kami hidup bahagia bersama sepasang putera-puteri yang lucu. Kelahiran Haikal dan Azizah merupakan hadiah yang teramat mahal bagi kami berdua. Untuk itu kami layak mensyukurinya, tak terkecuali terhadap Pak Juanda yang dengan ketulusannya mengobati penyakitku dalam rentang waktu yang cukup lama. Kami berharap mudah-mudahan dalam perjalanan hidup kedua buah hati kami ini, mereka akan tumbuh sehat dalam arti seutuhnya. |