Titi Pratiwi VIRUS TOXO MEMBUATKU TRAUMA DAN TAKUT HAMIL Virus toxo yang bercokol dalam tubuh Titi Pratiwi, mengakibatkan anak yang dilahirkannya meninggal setelah sempat berusia tujuh hari. Semenjak itu wanita ini trauma untuk hamil lagi. Ia khawatir musibah yang sama terulang lagi, atau cemas bayinya akan lahir cacat. Melalui pengobatan Pak Juanda. Titi terbebas dari toxo. Bahkan 2 puteri yang sehat dan lucu telah hadir di tengah-tengah mereka.
Virus toxo yang bersarang dalam tubuhku baru kuketahui setelah kasus kematian anakku yang pertama. Semula aku tak pernah membayangkan bakal terkena virus toxo. Sepanjang yang kutahu, virus yang berasal dari hewan ini amat jahat. Terlebih bagi ibu hamil, sebab ia akan menyerang dan menggerogoti pertumbuhan janin. Sudah pasti bayi yang dilahirkan bisa cacat dan tidak berumur panjang. Pada awal kehamilan aku merasa sehat-sehat saja. Hanya sesekali aku merasa kurang fit. Namun ketika usia kandunganku memasuki usia 8 bulan, tiba-tiba perutku terasa mulas yang amat hebat. Aku cepat-cepat kontrol ke rumah bersalin tempatku periksa hamil selama ini. Aku kaget ketika dokter mengatakan, bayi dalam kandunganku harus segera dikeluarkan hari itu juga. Sebab kalau tidak, bisa membahayakan diriku maupun bayiku. Air ketuban telah pecah dan membasahi pakaian dalamku. Tahun 1999 aku melahirkan dan menuai dukacita. BAYIKU MENINGGAL DUNIA Tak ada pilihan yang lebih baik lagi bagiku. Situasinya sudah sedemikian buruk, persalinanku tidak bisa dilakukan secara normal. Dokter melakukan tindakan induksi. Meski tengah diinduksi ternyata bayinya masih sulit dikeluarkan. Akhirnya aku menjalani operasi caesar. Begitulah lika-liku pengalaman yang aku alami ketika melahirkan anak pertama. Bayiku lahir memang belum waktunya, atau lebih dikenal dengan istilah bayi premature. Tubuhnya mungil, berat badannya tak lebih dari 2,1 kg Kelahirannya yang sempat melalui berbagai proses, membuat ia harus dirawat secara khusus. Saat aku diperbolehkan pulang, bayiku tetap tinggal di rumah sakit untuk menjalani perawatan khusus. Tentu saja ada perasaan sedih, ketika harus pulang tanpa menggedong buah hatiku ke rumah. Aku berharap mudah-mudahan keadaan fisik bayiku bisa secepatnya bersosialisasi dengan udara luar, sehingga bisa menyusulku pulang. Lain keinginan manusia, lain pula kehendak Ilahi. Sebelum bayiku sempat kubawa ke rumah, ia telah kembali kepada Sang Pencipta-Nya. Bayiku meninggal sehari setelah aku meninggalkannya di rumah sakit. Sungguh berita duka yang membuat kami terpukul. Dokter masih mencari apa penyebab kematiannya. Sebagai umat-Nya, kami hanya pasrah dengan kehendak Allah. Mungkin itulah yang terbaik bagi bayi kami, hibur hatiku dalam hati. Ketika itu bekas jahitan di perutku, belum pulih benar, sehingga rasa nyerinya masih sering kurasakan. Rasa perih di perut itu membuatku semakin sedih, sebab aku selalu teringat kembali saat aku mengandungnya. Mencurahkan cinta dengan sepenuh jiwa. Sakitnya masih terasa saat melahirkannya melalui Caesar, namun bayinya tiada lagi dalam kehidupan. Ingatan itu sering membuatku menitikkan airmata. Aku merelakan kepergiannya, namun aku tak sanggup menyimpan kesedihan dan dukacitaku. Suatu hari saat sedang kontrol ke rumah sakit, dokter menyarankan agar aku menjalani tes laboratorium. Dari hasil lab diketahui, ternyata aku mengidap virus toxo. Bisa dipastikan, virus inilah yang menyebabkan kematian bayiku. Bayiku tertular oleh virus ganas yang dibawa olehku, ibunya. Mendengar penjelasan dokter tentang keganasan virus toxo dan berbagai akibat yang dapat ditimbulkan oleh virus ini, aku jadi ngeri untuk hamil lagi. Aku tak mau mengulangi kebodohanku untuk yang kedua kalinya. Yang paling membuatku risau, adalah ketakutan jika aku hamil lantas bayinya lahir dalam keadaan cacat.. Akhirnya aku memutuskan sebaiknya tidak hamil lagi. Dokter menyuruhku minum obat antibiotik setiap hari, dengan harapan virus toxonya bisa hilang. Tetapi apakah bisa betul-betul hilang? Beberapa kali aku konsultasi ke beberapa dokter. Upaya lain yang kulakukan demi terbebas dari virus, aku kerap menjalani pengobatan alternatif ke berbagai kota. Pokoknya setiap mendengar ada orang yang bisa mengobati toxo pasti kukunjungi. Suatu hari sepupu suamiku bertandang ke rumah, ia menceritakan perihal Pak Juanda, ahli pengobatan toxo. Menurut ceritanya, Pak Juanda telah berhasil mengobati ratusan kasus toxo. Tentu saja ini masukan yang berharga bagiku dan suamiku. BEROBAT PADA PAK JUANDA Hari itu juga aku dan suami berangkat menuju tempat praktek Pak Juanda yang berada di Bogor. Kami, belum tahu persis daerah yang ingin kami datangi. Namun hati kami sudah bulat ingin menemuinya hari itu juga. Kami tidak perduli meski hari sudah menjelang senja. Sebagai penduduk Jakarta, tentu saja tak mudah menemui alamat prakteknya, yang waktu itu masih berada di kawasan Lolodan Bogor. Sepanjang jalan kami terus bertanya sampai akhirnya kami dapat menemui tempat prakteknya. Semenjak akhir tahun 2000 itulah aku mulai menjalani pengobatan yang dilakukan oleh Pak Juanda. Selain minum Aquatreat Therapy selama 6 bulan berturut-turut, ada beberapa bacaan Al‘quran yang harus kami baca dan amalkan. Setiap dua minggu sekali, suamiku mengambil obat ke tempat praktek Pak Juanda sampai batas waktu aku aman dan boleh masuk pada program kehamilan. Saat Pak Juanda menyatakan aku aman untuk masuk ke program kehamilan, aku malah cemas dan ketakutan. Aku belum yakin dengan jangka waktu secepat itu sudah sembuh dari virus. Akhirnya aku masih terus melanjutkan minum Aquatreat Therapy hingga beberapa bulan lagi. Bukan apa-apa, terus terang aku takut jika kami memiliki anak cacat. Sebab cerita seputar keganasan virus toxo yang pernah kuketahui, masih terus menghantui. Makanya aku masih terus menyuruh suami untuk mengambil obat meski ketika itu hasil lab telah menyatakan aku sudah terbebas dari toxo. Setelah aku benar-benar berhenti mengonsumsi Aquatreat Therapy, aku masih belum mau menjalani program hamil seperti yang dianjurkan Pak Juanda. Selama diriku belum merasa siap, aku belum mau melakukannya. Suatu hari akhirnya aku punya keberanian untuk hamil. Namun itu pun membutuhkan kekuatan ekstra, untuk meyakinkan aku akan berkonsultasi dulu pada dokter kandungan di Klinik Eva Sari. Sayang ketika aku datang ke klinik itu, aku tidak bisa langsung bertemu dengan dokternya. Akhirnya aku mendatangi dokter kandungan yang lain. Untuk meyakinkan kesiapanku, aku sempat mendatangi lebih dari satu dokter kandungan. Rata-rata dokter yang aku datangi memberi spirit agar aku tak perlu takut hamil jika memang sudah dinyatakan bebas dari virus toxo. Aku belum sempat kontrol ke Klinik Eva Sari, ketika aku keburu hamil. Seingatku waktu itu awal tahun 2002. Sebagai wanita yang pernah kehilangan anak, aku masih terus dihantui perasaan cemas akan keselamatan bayi dalam kandunganku. Memasuki usia kehamilan 3 bulan, aku mengalami flek. Rasa khawatir serta-merta memenuhi dada. Tidakkah ini suatu pertanda buruk? Dokter segera memberiku obat penguat kandungan. Memasuki usia kehamilan 7 bulan, timbul masalah lain. Ternyata posisi ari-ari kandunganku berada di bawah. Menurut dokter, ini adalah keadaan yang tidak lazim. Aku tidak boleh banyak jalan dan tidak boleh melakukan banyak aktivirtas. Untungnya hal itu tak berlangsung lama. Selanjutnya kondisi kehamilanku sudah pulih kembali dan normal. Tetapi memasuki 8 bulan, entah kenapa aku jadi sering mengalami kontraksi. Akibatnya, aku sering mulas yang rasanya sangat menyakitkan. Aku merasa cemas, khawatir pada keselamatan bayiku. AKU KEMBALI DICAESAR Untungnya dokter tempatku bersalin, sudah tahu riwayat penyakitku. Begitu aku tiba di tempat prakteknya, aku segera diberi surat pengantar untuk melakukan cek kehamilan di RSCM. Dengan begitu, dokter yang sedianya akan menjalani persalinanku di klinik bisa lebih merasa nyaman dalam melakukan tindakannya. Menurut dokter, anakku ini adalah “Anak Mahal”.Jadi penanganannya harus lebih hati-hati. Hasil pemeriksaan dari RSCM menyatakan bayiku harus sesegera mungkin dilahirkan. Dokter segera melakukan tindakan operasi caesar meski tanpa proses puasa terlebih dahulu seperti menjelang operasi besar pada umumnya. Tubuhku langsung direbahkan di ruang operasi. Tak lama kemudian operasi dilaksanakan. Alhamdullilah, operasi berjalan lancar. Aku melahirkan untuk yang kedua kalinya pada 15 Oktober 2002. Puteri kedua kami ternyata sama kecilnya dengan yang terdahulu. Melihat wajah mungilnya yang lucu, aku bahagia sekali. Menurut bidan yang menggendongnya, beratnya hanya 2,1 Kg, dengan panjang 45 Cm. Dalam hati aku berdoa, agar bayi ini dapat tumbuh sehat. Namun belum apa-apa aku mendengar kabar bayiku harus mendapatkan perawatan khusus. Karena rumah sakit tempatku bersalin belum memiliki ruangan khusus, akhirnya bayiku dibawa ke rumah sakit lain yang memiliki peralatan medis lebih lengkap. Mendengar hal ini hatiku kembali cemas. Aku berdoa kiranya Tuhan memberinya umur panjang. Aku sempat sedih, sebab ketika itu, aku belum puas menatap wajahnya, apalagi memeluk tubuh mungilnya. Melahirkan secara caesar membuatku lebih lama tinggal di rumah sakit. Hari ke lima dokter baru menginjinkan aku pulang ke rumah. Aku senang sekaligus sedih, sebab kepulanganku tanpa bayi yang kulahirkan. Namun sebelum kami tiba di rumah, aku dan suami sempat singgah melihat bayi kami yang tengah dirawat di rumah sakit lain. Sampai di rumah sakit yang dituju, seorang suster mengantar kami ke ruang perawatan bayi khusus. Dibatasi ruangan kaca, kami menatapbuah hati kami. Sungguh suatu pemandangan yang tidak kami duga sebelumnya. Bayi kami di baringkan dalam suatu tabung di mana beberapa selang dan suntikan menancap pada beberapa bagian tubuh mungilnya. Dadanya berdetak halus. Pemandangan yang amat menyedihkan. Tak terasa air mataku mengalir melihat penderitaan bayi kami yang usianya baru berbilang hari. Seperti yang disarankan dokter, setiap pagi dan sore aku datang membawa ASI ke rumah sakit tempat bayi kami dirawat. Meski ASI yang keluar hanya sedikit, aku bahagia sebab telah mampu mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya. Seminggu kemudian ketika kami menjenguknya, bayi kami sudah dipindahkan. Meski masih dalam tabung, namun selang sudah tidak lagi menyertainya. Tentu saja ini pertanda bahwa keadaan bayi kami sudah semakin membaik. Menjelang beberapa hari kepulangannya, bayi mungilku sudah dibaringkan di boks. Ketika mendengar kabar bahwa kami sudah bisa membawanya pulang, tak terlukiskan betapa bahagianya hati kami berdua. Sudah selama tiga minggu bayi kami menjalani perawatan khusus. Rasanya lengkap sudah keberadaan kami sebagai satu keluarga. Agar berat badannya dapat lekas bertambah, dokter menyarankan agar diberikan susu bayi khusus, harganya memang jauh lebih mahal. Aku tak perduli yang penting bayi kami bisa tumbuh sehat. Puteri kedua kami ini, kami beri nama Wita Aziza. Wita tumbuh sehat seperti bocah seusianya. Ketika usia Wita satu tahun, aku kembali hamil. Kendati Wita tumbuh sehat, entah kenapa ketika aku hamil lagi, perasaan cemas kembali menghantui. Aku kembali mendatangi beberapa dokter kandungan untuk meyakinkan kondisi kesehatanku. Dokter menyatakan agar aku tidak perlu khawatir. “Toxo dalam tubuh suatu saat bisa saja menjadi anti body bagi dirinya sendiri,” begitu menurut salah seorang dokter. Kehamilanku yang ketiga berjalan lancar. Aku melahirkan kembali pada 7 Juli 2004. Meski puteri ketiga kami lahir melalui proses caesar. Ia tumbuh seperti bayi sehat pada umumnya. Berat lahirnya 3,3 Kg. Melihat beratnya, ia tak perlu dimasukkan dalam tabung seperti Wita. Yang dikhawatirkan oleh dokter pada waktu itu bukan virus toxo yang dapat tertular pada bayiku, tapi justru proses kelahiran caesar yang jarak waktunya dengan anak terdahulu terbilang terlalu cepat. Kini Wita Aziza dan Fazila Nur Rahmah sudah bertambah besar. Herannya, tubuh Fazila malah jauh lebih besar dibandingkan Wita, kakaknya. Untuk usianya yang baru tiga belas bulan, berat badannya termasuk besar dibandingkan anak seusianya. Kiranya kedua anakku bisa tumbuh sehat, tanpa ada gangguan penyakit di kemudian hari. |