|
Marlupi Anca Kulahirkan Dengan Usus Terburai Kebahagiaan yang tengah meliputi pasangan muda ini saat menyambut kelahiran buah cintanya, tiba-tiba berubah menjadi nestapa. Bayi yang dilahirkan Marlupi ternyata membawa kelainan, karena ususnya terburai di atas rongga perut. Harus ada tindakan tepat untuk menyelamatkan bayi mungil itu. Dokter merencanakan operasi. Marlupi dan Danang, suaminya, berharap bisa menyelamatkan putranya dari maut. Menikah dengan pilihan hati, merupakan wujud kebahagiaan yang kurasakan pada awal aku membangun rumah tangga. Kukenal Mas Danang suamiku, diarena demonstrasi, saat kami bersama-sama turun ke jalan melakukan orasi aksi mahasiswa di UGM. Perkenalan singkat yang disemai dengan cinta membawa kami pada pernikahan di awal bulan Maret 2002. Aktivitasku tak terhenti dengan perkawinan, aku malah ikut senam aerobik dua kali seminggu, di samping aktif kuliah di program S2. Tanpa kusadari, hari menstruasiku telah lama lewat. Namun aku tidak terburu-buru meyakini, bahwa aku tengah memasuki usia kehamilan. “Setiap bulan aku biasa terlambat menstruasi, dan aku tidak merasakan adanya tanda-tanda kehamilan, seperti mabuk dan lemas atau muntah. Jadi aku melakukan senam aerobik seperti biasa.
Tidak kukira, suatu sore, ada flek darah yang kukira menstruasi. Saat itulah dokter memberitahu bahwa aku tengah hamil 7 minggu dan keguguran. Dr Merry, spesialis kandungan menguretku di Rumah Sakit Panti Rapih. Aku dilarang hamil selama 3 bulan ke depan. Bulan Februari 2003, setelah melalui waktu 6 bulan, baru dokter mengatakan aku positif hamil. Tidak ada rasa mual, mabuk atau keluhan ngidam yang meliputi awal masa kehamilanku. Hasil USG-ku baik, denyut jantung normal, janin pun berkembang sempurna, hanya yang mengherankan aku masih saja flek di usia kehamilan 2-3 bulan. Saat kandungan berusia 3 bulan, aku harus bed rest total di rumah. Akhirnya janin yang kukandung dapat diselamatkan. Pada usia kandungan 7 bulan, dokter mengatakan denyut jantung bayi normal, tidak tampak kelainan. Namun suatu hari dokter mengeluhkan sangat sulit mengukur perut bayi.Hari perkiraan lahir ditentukan 9 November, namun bayi dirahimku tak kunjung lahir. Setelah dipacu obat selama 2 hari, baru bayiku lahir tanggal 16 November dengan kondisi yang kurang sempurna. Beratnya hanya 2,8 kg dan di atas pusarnya teronggok lilitan usus warna kuning sebesar telur ayam. Bayiku lahir membawa kelainan. OPERASI YANG MENENTUKAN Bayiku yang lahir kurang sempurna itu menimbulkan banyak penafsiran pada dokter. Ada yang mengira aku minum alkohol selama kehamilan. Sungguh dugaan yang keliru dan tak beralasan. Namun aku tidak mempersoalkannya, yang penting bayiku segera mendapat pertolongan. Mas Danang suamiku mencoba mencari solusi untuk penanganan pemulihan kesehatan bayi kami. Ia segera menghubungi dokter Rohadi, dokter ahli bedah anak. Alhamdulillah, putra dokter Rohadi rupanya murid Mas Danang di UGM, melalui telepon dokter Rohadi meyakinkan, akan membantu menangani anak kami. Pada hari kedua, setelah dokter memeriksa. Bayi yang kami beri nama Anca ini, dokter mengatakan situasinya sangat rawan dan kritis. Perut Anca sudah membiru. Kalau di operasi kemungkinannya hanya 50%, namun kalau tidak di operasi pun 50%. “Wah lost ini”, kata Mas Danang panik. Kasus seperti ini, kalau di operasi, menyebabkan secara tidak langsung membunuh. Masalahnya kulit pada permukaan perut Anca belum tumbuh semua. Kesimpulannya Anca harus dirawat secara konservatif. Ketika usus itu akan dimasukkan, ia akan mendesak perut dan ginjalnya. Sebagai hamba Allah, aku dan suami hanya dapat berpasrah diri mengharap pertolongan Allah. Anca masih tergeletak di inkubator. Aku dan Mas Danang hanya tafakur, berdo’a memohon keselamatan Allah. Penderitaan Anca semakin serius saat diketahui, ia tidak bisa buang air besar. Anca segera di irigasi dengan upaya memberi rangsangan ke dalam perutnya. Namun tidak berhasil. Saran dokter Rohadi, Anca harus dibuatkan anus buatan. Dalam usia 3 hari Anca masuk ruang operasi. Kesedihanku tidak dapat dilukiskan. Aku hanya mampu tafakur dalam do’a, berpasrah diri, dan mengharap Tuhan memberi yang terbaik bagi bayiku. Allah telah mengamanahkan Anca padaku, aku yakin Allah pula yang akan memeliharanya. Bersamaan dengan operasi Anca, Mas Danang harusnya maju proposal untuk S2nya. Tetapi terpaksa ditunda, karena harus menunggui Anca. Tidak ada yang harus kami lakukan, kecuali mengharap mukjizat Allah menyelamatkan Anca dalam operasi. Sebelum operasi dimulai, dokter telah mengatakan operasi yang dilakukan ini beresiko tinggi. “Mas Danang berdo’a, pasrahkan kepada Allah. Saya hanya berusaha, ini kan titipan Allah”, kata dokter Rohadi. Bagai dihadapkan pada makan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati, begitu perasaanku saat itu. Semua keluarga berkumpul di rumah sakit. Ibuku membaca Al-qur’an semua keluarga berdo’a mengharap keajaiban Allah. Ucapan dokter tentang resiko tinggi, sungguh beralasan. Sebab di sekitar pusar Anca harus steril, namun di sisi lain dibuat anus buatan yang membuang kotoran, dikhawatirkan kondisi steril akan tercemar oleh bakteri dan kuman. Ini akan membahayakan. Aku dan Mas Danang stres luar biasa. Semua hening dan hanya do’a yang kudengar dari kalbu. Satu jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka, dan dokter keluar dengan wajah berseri. Syukur kepada Allah kian memuncak tatkala dokter menyatakan operasi pembuatan anus batal dilakukan. Dokter berhasil membenahi saluran pembuangan air besar ke posisi yang benar, istilah yang diucapkan dokter apresia bawah. Anca dirawat selama 3 minggu di Rumah Sakit Panti Rapih. Dengan ketelatenan luar biasa, dokter dan perawat memperhatikan perkembangan kesehatan usus Anca yang masih berada di luar perut. Setiap pagi suster mengganti perban penutupnya dengan sangat steril. Dari hari ke hari kulihat perkembangannya. Dokter Rohadi pun memperlihatkan pertumbuhan kulit Anca yang progresif. Ada perkembangan yang pasti dari hari ke hari. Hampir sebulan di rumah sakit, aku dan Mas Danang berencana membawa Anca pulang. Biaya rumah sakit menjadi beban yang harus di fikirkan oleh Mas Danang. Selama ini tak kupungkiri, peran teman-teman untuk membantu pengobatan Anca, termasuk budi baik dokter Pratikno dan istrinya yang terus memantau perkembangan kesehatan Anca, sangat ku syukuri. Meski dokter dan perawat agak keberatan dengan niat kami untuk membawa Anca pulang, namun dengan jaminan dokter Rohadi kami dapat membawa pulang Anca ke rumah. Dokter anak masih mencemaskan aku tak dapat merawat Anca di rumah. Kerusakan jaringan pada tubuh Anca masih sangat tinggi, namun Mas Danang menandatangani surat pulang paksa atas kemauan sendiri. PANAS TUBUH TINGGI Satu minggu di rumah, aku merawat dengan ketelatenan yang luar biasa. Perawatan Anca sungguh sangat repot. Proses usus yang masuk ke dalam perut itu membuat Anca menangis kesakitan. Dokter memberi obat penghilang rasa sakit lewat dubur. Selama itu perawatan yang kulakukan harus steril. Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor aku membuat perban berbentuk donat yang harus kukukus agar steril. Aku mengganti perban yang menutupi perut Anca. Kuletakkan dengan hati-hati melingkari usus yang berada diluar, lalu menutupnya dengan kain kasa yang halus. Perban itu harus dalam kondisi basah, diberi air infus agar lembab dengan cara disemprot perlahan-lahan. Bila terjadi infeksi, aku memberinya betadin. Selama 6 bulan, aku melakukan perawatannya dengan sabar dan teliti. Kesabaranku tengah diuji Allah. Dengan kesabaran pula aku merawat Anca yang harus terlentang dalam apitan bantal guling yang pas di kanan kirinya. Posisi Anca memang harus terbujur, dan tak mungkin miring atau tengkurap. Naluri Anca seakan memahami, ia tak mungkin bergerak bebas seperti anak seusianya. Aku memberi ASI hanya selama 2 minggu. Itupun harus di pompa, posisi Anca minum susu memang sangat sulit. Putingku yang kecil membuat ASI susah keluar, dan terpaksa harus disambung. Semampu mungkin aku mengatur posisi agar Anca enak untuk menyusu. Aku coba nungging di atasnya, kadang miring di sisisnya, namun semua tidak banyak menolong, karena ASI yang kumiliki sangat sedikit. Akhirnya aku memberi susu kaleng. Satu hari hanya 200 ml dibatasi sesuai, berat badan yang hanya 3,8 kg. Ia dilarang minum melebihi takaran. Awal pulang ke rumah, memang Anca sulit sekali minum ASI. Ia tampak lemah, dan baru seminggu di rumah Anca terserang panas. Mas Danang membawanya ke rumah sakit Sarjito, lalu Anca di periksa dengan serius, ia di echo, dan diketahui ada kebocoran di jantungnya, panas tubuhnya mungkin disebabkan oleh virus yang mengidap di tubuhnya. Aku memberi obat dokter, namun keluar bintik-bintik di kulitnya. Selama seminggu Anca dirawat di rumah sakit, Anca di observasi untuk mengetahui virus yang mengidap tubuhnya. BEROBAT KEPADA PROF JUANDA Dalam proses pengobatan Anca, teman-teman memberi tahu agar aku membawa Anca ke Prof. Juanda. Ada kasus sama yang pernah dialami kakak seorang teman. Pada kehamilan pertama istrinya juga menderita keguguran, kemudian pada kehamilan kedua anaknya lahir dengan menderita TORCH. Saat tubuhnya panas tinggi, ia tak tertolong lagi karena telat dibawa ke rumah sakit. Ia menyuruh aku agar membawa Anca ke Prof. Juanda, ahli pengobatan toxoplasma. Dorongan untuk berobat ke Prof. Juanda, datang juga dari beberapa teman. Akhirnya, selain pengobatan medis, aku juga berkonsultasi pada Prof. Juanda. TORCH ternyata bisa berdampak pada kelainan bawaan (cacat) fisik maupun non fisik. Selain usus terburai, TORCH bisa membuat katarak, syaraf mata, bibir sumbing dan lainnya. Menurut Prof Juanda, cacat non fisik ini bisa kelihatan setelah anak berumur setahun, dua tahun, seperti hiper aktif, abnormal, epilepsi dan lain-lain. Aku dan Mas Danang datang berkonsultasi saat Anca berusia 2 bulan. Saat itu reflek pandang mata Anca sangat lamban. Ada kecemasan virus TORCH dapat merusak syaraf matanya. Prof. Juanda menganjurkan Anca meminum ramuan Aquatreat Therapy olahannya sebanyak 10/15 ml setiap hari. Aku dan Mas Danang juga ikut minum sebanyak 120 ml setiap pagi. Pada pemeriksaan darah, seusai melahirkan dulu aku mengidap CMV 249,9; Rubella 2,6. Panas tubuh Anca turun drastis setelah 12 hari minum Aquatreat Therapy, ramuan pak Juanda. Anca lahir dengan IGM positif. Setelah 6 bulan meminum ramuan alam itu, pandangan mata Anca bergerak lincah. Usus yang terburai terbantu pula, kulitnya tumbuh dengan baik. Kemajuannya terlihat pesat, dari hari ke hari. Anca semakin lincah. Tanpa melalui proses tengkurap lagi Anca langsung berdiri dan belajar jalan. Ususnya sudah tertutup kulit. Bagai sebutir telur yang melekat di pusarnya, Anca dapat bergerak lincah dan ceria. Yang dulunya 1 bulan bisa tiga kali ke dokter, saat ini tidak lagi. Setiap hari ayahnya memperdengarkan lagu-lagu nasyid, dzikir dan Al-qur’an, serta musik klasik dari Mozart. Perjuangan panjang merebut Anca dari maut, merupakan pengalaman yang mendatangkan hikmah dalam hidup kami. Allah Maha pengasih dan Maha penyayang, aku belajar untuk bersabar, mencurahkan cerita kasih dengan ikhlas, melalui ujian Allah dengan penuh kesabaran. Alhamdulillah, banyak cinta tercurah pada Anca, semua adalah anugerah dan kasih sayang Allah. |
|
|