Beranda arrow Kesaksian arrow Mendapat Anak ...
Newsflash

Jadwal Praktik 2010

Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Virus Toxo Memang Kejam
@ Dee: Alamat Pak Juanda
Kantor Pusat: Jln. SUTIRAGEN IX NO. 6,...
24/07/10 19:30 Selengkapnya...
Oleh: Khoirul Anam / Admin

Virus Toxo Memang Kejam
pengobatan alternatif
Selamat atas karunia yg telah diterima,...
23/07/10 05:50 Selengkapnya...
Oleh: dee

SEMBUH DARI RADANG OTAK
@ a: SubhanalLah...
SubhanalLah wal hamdulilLah. "Setiap...
14/07/10 20:59 Selengkapnya...
Oleh: Khoirul Anam / Admin

SEMBUH DARI RADANG OTAK
a
:upset :upset :eek :eek :eek :eek ...
14/07/10 09:13 Selengkapnya...
Oleh: a

Mau Cepat Hamil?
Kenapa Ya?
:)
21/06/10 03:21 Selengkapnya...
Oleh: Suhedot

Jadwal Terbaru
Thu, Aug 5th, 2010, @8:00am - 01:00PM
PURWOKERTO
Thu, Aug 5th, 2010, @8:00am - 01:00PM
Tasikmalaya
Sat, Aug 7th, 2010, @8:00am - 01:00PM
Jogjakarta
Mendapat Anak ... PDF Print E-mail
Testimoni
 

I Made Sujarna & Ni Made Dewi Saraswati

MENDAPAT ANAK MELALUI PERJUANGAN YANG PANJANG

ImageKegelisahan belum mempunyai anak, membuat perasaan istriku sensitif, emosional, resah dan menutup diri. Dua kali Dewi keguguran, dan sudah 10 macam jenis pengobatan dilakukan, namun kehamilan tak kunjung datang. Harapan mulai menjadi kenyataan, setelah Dewi kubawa berobat pada Prof. Juanda. Kini kami bahagia dengan kehadiran Ni Luh Hita Gauri.

Tak dapat kami lupakan pengalaman pahit kehidupan, saat kami berjuang untuk memperoleh keturunan. Hari-hari indah yang kami nikmati sepanjang bulan madu di awal perkawinan, telah berubah menjadi hari-hari yang di rundung kepedihan. Keceriaan mulai pudar dari wajah Dewi istriku. Rona kebahagiaan hampir sirna, ketika 3 tahun masa perkawinan,  kami tak kunjung dikaruniai anak. Padahal dokter spesialis kandungan yang kami datangi untuk konsultasi, menyatakan rahim Dewi sehat. Tapi mana buktinya? Istriku semakin stres dan mengurung diri,  tidak mau lagi bersosialisasi di tengah keluarga dan masyarakat

Aku memahami perasaannya. Bila kami datang ke pesta perkawinan keluarga, memang yang ditanya selalu masalah anak. Saat aku membawanya ke kampungku di Singaraja menghadiri pesta kawin atau ngaben, pertanyaan keluarga selalu klise. “Belum juga punya anak? Ngapain kerja keras kalau tak punya anak?”. Istriku merasa menjadi bahan gunjingan. Merasa dicemooh dan dilecehkan. Lama-lama Dewi tak mau lagi pulang kampung, tak ingin berada di tengah keluarga besar, atau dia kusembunyikan di rumah, dan tak kuajak ke pesta-pesta. Cukup aku yang datang sendiri.

Sebagai suami aku tak kalah stres. Aku merasa bersalah, karena dulu di tahun 1997, Dewi pernah hamil dan terpaksa melakukan abortus. Aku menyesali keputusanku. Saat itu  aku berfikir, sebagai tulang punggung keluarga, dengan 4 orang adik, aku belum mampu berumah tangga. Apalagi ibuku berpesan, jangan menikah sebelum adik-adik tamat sekolah. Maka kusadari kemarahan Dewi padaklu tak terkatakan. Secara psikologis ia menyimpan kemarahan. Namun aku janji,  tidak akan menikah lagi kalau sampai Dewi tidak memberi keturunan. Istriku tampak tenang dengan janjiku, kami terus berupaya dengan seluruh daya untuk mendapat keturunan.

BEROBAT MEDIS, SPRITUAL DAN TRADISIONAL

Tahun 2000 kami menikah. Keinginan untuk cepat punya momongan membuat kami selalu memupuk harapan. Telah enam bulan berlalu, namun impian kami tak juga terwujud. Menginjak bulan ke 8, menstruasi Dewi terhenti, kebahagiaan terasa memercik dalam rumah tangga kami, namun cuma beberapa minggu, janin di rahimnya gugur lagi.

Kejadian pahit itu, membuat aku lebih serius untuk konsultasi ke Dokter. Dokter spesialis kandungan kembali memeriksa Dewi dengan teliti, minum obat penyubur rahim, sampai hubungan suami istri pun diatur sesuai masa kesuburan. Namun sampai 3 bulan, Dewi tak kunjung hamil. Spermaku bagus. Kondisi rahim Dewi pun baik. Akhirnya dokter menyerah, angkat tangan. “Tidak perlu berobat lagi, pergi saja ke pura untuk sembahyang, mohon pada Sang Hyang, nanti akan dikabulkan,” ucap dokter Wardiana.

Tidak percaya dengan dokter yang satu, kami ke dokter yang lain, namun diagnosa dokter tetap sama. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba pengobatan alternatif. Yang pertama kukunjungi adalah ahli pijat dari Jawa. Selama 8 bulan istriku taat untuk di pijat. Katanya, kandungan lemak di rahim istriku  yang membuat Dewi sulit hamil. Namun 8 bulan menjalani terapi menjadi sia-sia karena Dewi tak kunjung hamil.

Kami pindah berobat ke Shinshe di Sesetan. Dewi harus minum obat yang bulat-bulat seperti kotoran kambing. Hubungan intim kamipun diatur, tetapi setelah beberapa bulan nihil, tak ada hasilnya. Selanjutnya kami memenuhi saran tetangga yang telah 4 tahun kawin, berhasil punya anak setelah di pijat di Buleleng.

Selama 3 bulan, 2 kali seminggu ku antar Dewi ke Buleleng untuk pijat. Namun lewat 3 bulan, tak ada tanda-tanda yang akan membuat Dewi positif hamil. Dewi bosan dan tak mau kembali lagi.Untuk ketenangan batin dan melenyapkan stres, kami ikut meditasi dengan kakak, di bimbing oleh Bapak Merta Ade. Kami rasakan memang, stres berkurang, hati menjadi lebih lapang dan Dewi tak lagi menangis saat ditanya belum punya anak.

Masih banyak pengobatan alternatif yang kami tempuh, namun semua sia-sia belaka. Akhirnya aku datang pada guru spiritual Bhagawan Sri Satya Sai Baba. Bulan Oktober 2002, aku mulai konsultasi pada Sai Baba.  Beliau menyarankan agar kami pergi ke India, mengunjungi tempat-tempat suci untuk memohon pada yang maha kuasa agar keinginan punya anak dapat terwujud. Tak lama kami berfikir menimbang keberangkatan yang memerlukan biaya yang cukup besar ini. Namun  anak adalah segalanya dalam hidup kami, kalau materi masih mudah dicari.

BERANGKAT KE INDIA

Penuh harapan dan cita-cita aku dan Dewi segera berangkat ke India.  Kami melakukan meditasi di sebuah pura di atas sungai Gangga. Pura Mangsa Dewi, yang dipuja Dewi Durga. Aku dan Dewi mengikatkan benang di salah satu pohon pemenuh keinginan. Kelak kalau keinginan punya anak berhasil, aku dan Dewi harus kembali lagi untuk membuka benang itu.

Selama  di India, kami memanfaatkan waktu ke tempat-tempat suci, dimana doa seringkali dikabulkan. Tak ada rasa lelah dan penat, penuh semangat dan harapan kami muarakan semua impian hidup kami pada Sang Maha Pencipta, berharap cita-cita kami memiliki keturunan dapat dikabulkan.

Pulang dari India, perasaan kami jauh lebih tenang dan nyaman. Pamanku menyarankan, agar kami juga mohon di pura keluarga, minta maaf pada leluhur, mungkin ada kesalahan-kesalahan terdahulu yang kami abaikan. Segera kami membuat Banten atau sesaji untuk ritual, setelah itu rasanya perasaan kami semakin tenang saja. Seolah dibukakan jalan untuk memperoleh solusi, seorang teman lama yang sudah berulang kali menyarankan untuk konsultasi ke Prof. Juanda, lagi-lagi menelepon dan memaksa untuk datang konsultasi ke Prof Juanda. Sudah lama ia memberi informasi, mengajak, menelepon, sms, namun selama ini aku tidak tergugah,  apalagi Dewi  istriku, tidak percaya lagi pada pengobatan alternatif. Dewi menutup diri dan sudah putus asa untuk berobat. “Ah, berobat di mana saja sama, kalau Tuhan mau kasih, nanti juga hamil,” katanya menolak.    

Beruntung suatu hari saat di Salon, ada majalah yang membahas tentang TORCH.  Kusuruh Dewi membacanya.  Ia mulai terpikat untuk datang pada Pak Juanda. Aku semakin terpacu dan penuh semangat mengajaknya. Segera kutelepon Dewa, teman yang membantu di klinik Prof Juanda, memberitahukan kami akan datang berkonsultasi. Bertemu Pak Juanda,  secara psikologis kami termotivasi. Beliau menyuruh kami ke laboratorium untuk memeriksa TORCH (Toxo, Rubella, CMV dan Herpes). Ternyata Dewi mengidap Rubella dan CMV. Saat datang memperlihatkan hasil laboratorium, Pak Juanda berkata, “Kamu beruntung belum punya anak, sebab  kalau sempat punya anak, pasti anaknya cacat.”

Saat itu rasa sesal, marah dan putusasa seakan lenyap seketika. Kami mulai menyemai harapan baru, berobat dengan Pak Juanda. Dengan telaten selama 6 bulan Dewi minum Aquatreat Therapy, ramuan Pak Juanda, yang harus diminum setiap pagi saat perut kosong. Aku menjadi suami yang disiplin dan tertib menyediakan Aquatreat Therapy yang di campur madu, untuk istriku. Aku melayaninya bagai seorang ratu.

Setelah 6 bulan lewat, Dewi kembali  menjalani tes darah di laboratorium. Hasilnya Rubella dan CMV yang mengidap di tubuhnya  tinggal tersisa satu.  Prof. Juanda menyatakan kami aman memasuki program kehamilan. Penuh harapan dan semangat kami yakin betul, kehamilan pasti datang dan kami akan punya anak. Pesan Pak Juanda, kalau hamil silakan ke medis, tetapi selama hamil tetap harus minum Aquatreat Therapy ramuannya.

Namun setelah 4 bulan berlalu, ternyata Dewi tidak hamil juga, Dewi mulai putus asa lagi. “Tuh kan.., gak hamil-hamil. Bener kan... sudah kubilang, gak mungkin hamil,” ucap Dewi kesal. Aku menghiburnya, membawa jalan-jalan ke Lombok untuk ketenangan hatinya.

Hanya beberapa bulan setelah liburan itu, Dewi telat menstruasi. Malamnya, kami membeli test pack. Pagi keesokan harinya Dewi membangunkan tidurku.

“Made....Made.... lihat positif!! Masa sih saya hamil,” katanya tak percaya. Sorenya kami ke dokter, memang positif. Seperti mendapat gunung emas, kebahagiaan kami sungguh tak terlukiskan. Masa-masa hamil, Dewi kerapkali datang ke klinik Pak Juanda, di sebuah hotel di Denpasar, untuk memberi motivasi kepada ibu-ibu muda yang sulit hamil. Dengan kebahagiaan Dewi menyemai harapan pada ibu-ibu yang tengah gelisah karena tak kunjung mendapat anak.

BAYI YANG SEHAT DAN NORMAL

ImageHari kelahiran yang ditunggu, akhirnya tiba juga. Dewi melahirkan dengan caesar. Kecemasan tampak luar biasa,  ia trauma anaknya akan cacat. “Made hitung jarinya apa lengkap? Made perhatikan bentuk kepalanya, apa normal? Anggota tubuhnya?” Serangkaian panjang pertanyaan meluncur dari bibir  Dewi yang diliputi kecemasan. Aku mengatakan semuanya normal, karena baru pada hari kedua ia bisa melihat bayinya.

Empat tahun kami menunggu kehadirannya. Bayi mungil yang lahir 19 September 2004 ini diberi nama Ni luh Hita Gauri. Ia tampak sehat dengan berat 4 kg dan panjang 50 cm. Aku langsung menelepon Pak Juanda mengabarkan Dewi telah melahirkan dengan selamat.

Banyak hikmah yang kuperoleh dari peristiwa panjang dan perjuangan kami memperoleh anak. Ada lima hal yang selalu kuingat. Di antaranya kami pernah mengambil anak kakak yang kuasuh seperti anak sendiri. Sampai Dewi melahirkan, keponakan yang sudah berusia 3 setengah tahun itu kembali ke orang tuanya. Kalau di Jawa dikenal dengan mancing anak. Kemudian kami melakukan meditasi, lalu mengikuti berbagai pengobatan dengan pijat tradisional.

Selanjutnya yang paling penting adalah mengikuti program pengobatan TORCH dari Pak Juanda, dan terakhir melakukan upacara sesuai dengan keyakinan kami orang Bali. Setelah kelahiran Ni Luh Hita gauri bulan September tahun 2004, kami kembali ke India dengan membawa si kecil. Kami harus melakukan melakukan sembahyang di Pura Manga Dewa di atas sungai Gangga. Kami mensyukuri anugerah terbesar dalam hidup kami, karena memiliki anak. Kedatangan kami kembali ke India adalah untuk membuka benang yang kami ikat di pohon pemenuh keinginan. Ini adalah kebahagiaan kami, perjuangan panjang yang kami lakukan telah berhasil.

Terima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah mengabulkan harapan kami melalui Pak Juanda. Seperti yang selalu di katakan oleh Pak Juanda, “Saya menolong atas izin Allah, saya membantu pasien dengan pertolongan Allah[]

   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 

Display 1 of 1 comments

Salam dan SeLamat

By: PanDe Baik () on 07-05-2009 07:34

Salam dan SeLamat

By: PanDe Baik ( IP 64.255.180.21) on 07-05-2009 07:34

Saya pun sempat mengalami hal yang sama. Menanti sekitar 2 tahun after wedding day akhir 2005. Memeriksakan kandungan ke Dokter Mayun di Simpang Enam, merujuk ke Dokter Wimpie lantaran hasil Sperma saya kurang. Enam bulan saya berobat tak kunjung bisa, dan disarankan untuk operasi. 
Berpindah ke Dokter Wardiana, dirujuk ke Dokter Nono, hasilnya sama saja. Bahkan Vonis sang Dokter (Nono) bahwa saya tidak akan memiliki anak jika tak menjalani operasi. 
Oke... semua itu saya terima dan STOP !!! 
Saya memilih jalur alternatif.... Bertanya pada Sri Empu (ida nak lingsir) yang menguasai bidang ini.

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Display 1 of 1 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
EG6         4        
  T    I    9 4   LST
XO9   1OA   3EB      
  C    Q      Q   YQ2
8TK           U      
   
   



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >