Anakku Autisme Karena Toxo (Alif Rizky Gunawan) Setelah kelahiran anakku, Alif Rizky Gunawan tahun 1997 lalu ternyata membawa berkah seluruh keluargaku. Aku (sebut saja Farida, ibu Alif) merasakan kesenangan yang tidak bisa terbayangkan. Meski Alif lahir prematur tepatnya pada usia 8 bulan, karena keburu pecah ketubannya, ternyata kehalirannya juga tidak menampakkan hal-hal yang mencurigakan dan dapat hidup secara normal-normal saja, khususnya awal-awal bulan. Tepatnya Alif berkembang seperti layaknya bayi lain, hingga usia sekitar 18 bulan.
Namun menginjak usia ke-18 bulan, sepertinya Alif memperlihatkan ada sesuatu yang kurang wajar dalam perkembangannya. Tidak seperti anak-anak lain pada usia tersebut sudah bisa dipastikan ada perkembangan-perkembangan yang layak seperti sudah mulai belajar bicara, sudah bisa jalan dan perkembangan lainnya. Namun untuk Alif pada usia 18 bulan ini belum ada tanda-tanda bisa berjalan ataupun bisa belajar bicara. Aku dan mas Pungky (panggilan akrab suamiku-Ket) merasakan ada sesuatu yang tidak wajar. Karena penasaran aku dan mas Pungky mencoba memeriksakan Alif ke salah satu dokter anak di Kalimantan. (Kebetulan waktu itu mas Pungky ditugaskan di salah satu BPN di kota Kalimantan) Begitu ketemu dokter anak tersebut, aku mencoba mengutarakan permasalahan yang kuhadapi. Namun setelah kusampaikan permasalahan tersebut, jawaban dokter sungguh membuat aku dan mas Pungky tidak habis pikir. “Dibiarkan saja, nantikan kalau sudah waktunya bisa jalan sendiri, memang pertumbuhan Alif sepertinya ada keterlambatan,” tutur dokter tersebut.
Awalnya aku dan mas Pungky mencoba untuk bersabar dan menuruti saran dokter namun setelah ditunggu-tunggu beberapa waktu, Alif tetap tidak bisa jalan. Bahkan orang tuaku mengetahui kalau cucunya ada masalah, lewat telepon menyarankan untuk memeriksakan Alif ke dokter spesialis anak di RS Sardjito, Jogja. Karena inginnya Alif bisa berkembang normal dan kebetulan mas Pungky dinasnya dipindah ke BPN Klaten, maka saran orang tuaku langsung saja aku turuti. Kesimpulan dari hasil pemeriksaan ke RS Sardjito tersebut, disarankan untuk periksa TORCH. Aku dan mas Pungky juga tidak atau apa itu penyakit TORCH, hingga anakku harus periksa penyakit tersebut. Namun lagi-lagi demi kesembuhan anakku saran dokter tersebut aku turuti juga. Hasilnya diluar dugaan, ternyata anakku positif terkena TORCH. Bahkan hasil pemeriksaan penyakit tersebut sudah merusak otak sebelah kiri. Buktinya setelah disinar kelihatan bercak-bercak putih.
Karena sudah positif terkena TORCH tersebut, maka diputuskan oleh dokter supaya anakku menjalani perawatan secara intensif. Dibawah pengawasan salah satu dokter tersebut, anakku selama tiga hari diberi cairan infus. Setelah mendapatkan perawatan seminggu, Alif menunjukkan ada kemajuan. Untuk memastikan apakah TORCH tersebut sudah sembuh apa tidak, maka disarankan untuk uji lab lagi. Hasilnya hanya turun 5 saja dari yang sebelumnya 274 IGG menjadi 269 IGG. Mondok beberapa hari dengan biaya sudah sekitar Rp 3 juta, meskipun harus diinfus (ditusuk –tusuk jarum) namun penyakit TORCH-nya sudah turun 5 untuk beberapa waktu perasanku agak lega maka diputuskan untuk dibawa pulang karena sepertinya Alif sudah sembuh.
Sepulang dari rumah sakit, ternyata Alif menunjukkan beberapa kemajuan yang aku dan mas Pungky sampai geleng-geleng kepala. Ternyata Alif menjadi anak yang hiperaktif, tidak bisa diam, maunya harus diperhatikan, kalau minta sesuatu harus diberikan bila tidak diberi ngamuk-ngamuk. Pokoknya sepertinya menjurus ke tingkah laku yang autisme. Aku dan mas Pungky dibuat kelabakan menghadapi perkembangan Alif seperti itu. Tidak disangka kalau perkembangan Alif malah bisa sebaliknya. Dulu agak terlambat, namun sekarang malah semuanya serba over. Namun anehnya, dalam sebulan Alif sering demam, panas bahkan dalam sebulan bisa tiga kali terkena demam.
Karena seringnya terkena penyakit tersebut, aku dan mas Pungky mencoba memeriksakan Alif ke dokter lagi. Hasilnya tetap sama hanya diberi obat vitamin dan antibiotik saja. Cuman masalahnya, dari saran dokter mengatakan kalau ingin anaknya sembuh harus mondok lagi. Padahal aku sebagai ibunya tidak tega melihat penderitaan Alif ketika di rumah sakit. Hati ini seperti teriris-iris bila melihat harus diinfus dan melihat tusukan-tusukan jarum di sekujur tubuhnya. Aku terus terang saja, tidak mentholo melihat kenyataan tersebut, pikirku waktu itu.
Karena tidak tega tersebut, aku dan mas Pungky mencoba mencari alternatif lain, siapa tahu Alif bisa sembuh namun tidak dengan pengobatan dokter. Maka dicobanya mencari informasi ke sana kemari. Bahkan tidak segan-segan mencoba mendatangi pengobatan alternatif, namun hasilnya tetap saja tidak ada perubahan. Ketika dalam kebingunan tersebut, secara tidak sengaja ketika berkunjung ke salah satu saudaraku, membaca sebuah majalah wanita, mengenai penyembuhan alternatif penyakit TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, CMG, dan Herves) yang ditangani oleh Ir A Juanda dari Bogor. Yang kebetulan mengadakan praktek pengobatan di Jogja.
Singkat cerita, setelah kusampaikan permasalahan anakku yang terkena TORCH tersebut, disarankan untuk menjalani terapi penyembuhan dengan meminum ramu-ramuan dari pak Juanda tersebut. Ramuan pak Juanda supaya diminum sehari sekali pada pagi hari dicampur dengan madu dan tidak boleh dicampur dengan susu. Namun sayangnya setelah dicobakan untuk diminum oleh Alif ramuan tersebut, sepertinya perut Alif tidak mau menerima. Setiap kali minum langsung muntah-muntah. Meskipun dilarang oleh pak Juanda, maka aku mencoba dicampur dengan susu. Siapa tahu bisa masuk dan tidak muntah-muntah.
Pada bulan-bulan pertama menjalani terapi oleh pak Juanda, Alif sepertinya tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Bahkan kelihatan seperti tidak ada perubahan sama sekali. Karena penasaran maka aku mencoba konsultasi dengan pak Juanda, kenapa setelah meminum ramuan pak Juanda selama sebulan tidak ada perubahan yang drastis. Pak Juanda juga merasa heran kenapa Alif tidak ada perubahan. Padahal menurut pak Juanda segala saran-sarannya sudah dipenuhi. Cuma ada satu yaitu untuk meminumnya jangan dicampur dengan susu terus terang saja tidak aku sampaikan ke pak Juanda. Aku takut kalau disalahkan. Pak Juanda juga sepertinya bertanya-tanya ada apa kok, sudah berjalan sebulan tidak ada perubahan?
Memasuki bulan kedua, meskipun tidak ada perubahan yang sangat berarti, aku berspekulasi untuk tetap memberikan ramuan ke Alif. Hingga memasuki pada bulan ketiga, sepertinya ada tanda-tanda perubahan pada anakku. Begitu aku sampaikan ke pak Juanda, dia (pak Juanda) merasa syukur ternyata ramuannya ada gunanya. Hingga memasuki pada bulan keempat, ternyata Alif sudah menunjukkan perilaku bertolak belakang dengan empat bulan lalu. Aku dan mas Pungky dibuat heran, kenapa Alif ada perubahan yang sangat mencolok sekali. Dulu tiap harinya selalu bertindak yang merepotkan orang tua, hiperaktif, tidak bisa diam, maunya harus diperhatikan, kalau minta sesuatu harus diberikan bila tidak diberi ngamuk-ngamuk. Pokoknya sepertinya menjurus ke tingkah laku yang autisme. Sekarang kelihatan lebih pendiam, tidak mudah marah-marah, mau belajar ngomong, mau dinasehati.
Mendapati perubahan tersebut, aku mencoba konsultasi ke pak Juanda lagi, disarankan pak Juanda untuk periksa lab lagi. Setelah uji lab, sungguh diluar dugaan, ternyata TORCH sudah negatif. Pak Juanda langsung kuberitahu kalau Alif sudah negatif. Setelah pasti kalau Alif negatif, maka aku baru cerita ke pak Juanda kalau selama ini ada satu pantangan pak Juanda yang aku langgar, yaitu ketika meminum ramuan pak Juanda ditambahi susu. Pak Juanda juga kaget, “Bener reaksinya sangat lambat, baru empat bulan ada perubahan, karena selama ini meminumnya dicampur susu. Padahal saran saya, jangan dicampur dengan susu. Coba kalau tidak dicampur saya jamin belum dua bulan pengobatan sudah ada perubahan,” tutur Pak Juanda waktu itu. Akupun hanya diam saja, benar juga saran pak Juanda tersebut. Namun kalau tidak dicampur Alif tidak mau minum.
Setelah menjalani terapi selama empat bulan, Alif sudah bisa nyanyi, menirukan iklan-iklan di televisi, menghafal abjad A-Z dan menghitung 1-10. Bahkan cara merespon sesuatu bisa dengan cepatnya. Sekeluarga juga merasa senang mendapati perkembangan Alif sudah normal seperti teman-teman seusianya.
Setelah Alif benar-benar sembuh dan dinyatakan negatif terhadap TORCH, aku jadi penasaran tentang penyakit TORCH tersebut. Karena penasaran tersebut, aku mencoba mencari jawabnya. Setelah tahu, aku dibuat tidak percaya, ternyata TORCH termasuk salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh virus binatang piaraan. Aku mencoba mengingat-ingat, kalau Alif terkena TORCH itu kira-kira penyebabnya apa. Setelah ditelusuri ternyata dapat dipastikan kalau TORCH berasal dari burung yang dipelihara kakek Alif (orang tuaku).
Ternyata virus TORCH yang disebabkan oleh binatang piaraan seperti kucing, kambing, burung, merpati secara langsung atau tidak langsung (lewat perantaraan) bisa menular ke manusia. Salah satu buktinya adalah Alif anakku. Aku ceritakan kalau dulu kakek memang senang memelihara burung jumlahnya 4 ekor, kalau siang burung tersebut ditaruh di luar rumah, namun kalau malam hari burung ditaruh di ruang makan yang sekaligus sebagai ruang keluarga. Nah kalau malam hari itulah, ketika burung-burung mengepakkan sayapnya secara langsung menyebarkan virus TORCH ke seluruh isi keluarga termasuk Alif. “Benar saja, kalau selama ini keluargaku setiap malam pesta virus TORCH,” pikirku waktu itu.
Untuk memastikan kalau virus TORCH tidak hanya menyerang kepada anakku saja, maka diputuskan aku, mas Pungky dan orang tuaku serta saudara-saudaraku memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya sungguh luar biasa, ternyata hampir seluruhnya positif terkena TORCH. Karena positif itulah, maka hingga saat ini, keluarga kami secara teratur meminum ramu-ramuan dari pak Juanda. Meskipun tiap bulan harus menyisihkan sebagian uang untuk membeli ramuan tersebut, namun bagaimanapun juga kesehatan lebih penting. Jelasnya hingga saat ini, tidak hanya Alif saja yang meminum ramuan pak Juanda, namun juga aku dan mas Pungky (suamiku). Bahkan orang tuaku juga sepertinya juga akan ikut-ikutan meminum ramuan tersebut.
Karena dendamnya dengan burung penyebar virus TORCH tersebut, maka diputuskan oleh orang tuaku, burung-burung tersebut harus dimusnahkan. Dan syukurlah hingga saat ini keluargaku sudah tidakk pesta virus TORCH lagi, dan mudah-mudahan aman. **
|
|
|