Tiba-tiba saja mata kiriku terasa sakit, waktu itu sekitar bulan Juni 2000, untuk melihat saja kabur apalagi untuk menyetir sendiri. Nama lengkapku adalah Drs D Agus Harjito, Msi, sehari-hari sebagai dosen UII Jogjakarta. Kegiatan mengajar yang selama ini aku lakukan terpaksa banyak mengalami gangguan yang sangat mengganjal. Boro-boro untuk membaca, melihat tulisan saja hurufnya sudah amburadul. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja mataku tersebut sakit. Padahal sebelumnya tidak pernah sakit. Mungkinkah mataku kumat lagi setelah sekitar tahun 1996 lalu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan otakku luka, atau karena sebab lain?. Memang setelah mengalami kecelakaan ketika itu aku ditabrak sepeda motor, sempat opname di rumah sakit sekitar setengah bulan. Namun alhamdulillah luka yang ada di kepala bisa sembuh. Untuk beberapa waktu tidak pernah merasakan sakit.
Untuk memastikan sakit yang aku derita tersebut, aku mencoba untuk memeriksakan diri ke dokter mata dan ahli syaraf. Setelah berobat diberi obat-obatan untuk diminum sesuai petunjuk yang ada. Namun meskipun sudah meminum obat-obatan tersebut, sakitku juga belum kunjung sembuh malahan tambah hari tambah parah. Karena setiap kali aku periksa ke dokter tidak pernah ada kemajuan, maka setelah periksa terakhir disarankan untuk periksa virus Toxo. “Siapa tahu kalau bapak terkena virus yang sedang ngetren ini,” kata dokter waktu itu kepadaku.
Saran dokter tersebut awalnya tidak aku gubris sama sekali, aku juga agak ragu tentang penyakit Toxo tersebut. Namun setelah dipikir-pikir beberapa hari dan saking inginnya sembuh dari penyakit tersebut, akhirnya aku putuskan untuk periksa ke laboratorium tersebut. Setelah aku cek ke dokter, astaga, ternyata aku terkena CMV sebanyak kalau tidak salah 312, waktu itu sekitar bulan Juli 2000. Untuk mengobati penyakit tersebut aku diberi obat, aku lupa namanya, yang pasti harga obat tersebut sekali membeli obat di apotek biayanya sekitar RP 700 ribu. Meskipun harganya sangat mahal untuk ukuranku namun karena ingin sembuh, akhirnya obat tersebut aku beli juga.
Mengkonsumsi obat yang mahal inipun ternyata belum juga membawa manfaat yang nyata terhadap perkembangan penyakitku tersebut. Hingga akhirnya sampai sekitar bulan September 2000, lewat teman istriku disarankan untuk mencoba menjalani pengobatan alternatif pak Juanda. Kebetulan anak istriku juga sedang menjalani terapi pengobatan alternatif tersebut.
Disisi lain, penyakitku semakin parah saja, sebelumnya hanya kepala pusing sedikit, penglihatan mata agak kabur, sekarang sakitnya bisa dua kali lipat. Sehari bisa berkali-kali kumat sakit kepalaku, ataupun mataku. Mataku kalau untuk melihat sinar sangat silau dan tidak bisa jelas, untuk membaca kepala ini rasanya mau pecah, mataku juga seakan mau keluar. Pokoknya sakitnya sudah tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Dengan kenyataan ini, maka aku waktu itu sudah tidak bisa menyetir mobil sendiri. Kemana-mana harus ada yang mau mengantar, namun beruntunglah ternyata istriku, Esti Wahyuningsih (39) dengan tekunnya membantu dan mendampingiku kemana aku pergi. Istriku dengan setianya menyetir mengarahkan, mendorong agar aku bisa tatag (tabah) dalam menghadapi cobaan ini.
Malahan pada waktu itu, bukan saja kepalaku pusing, mata kiriku juga kabur, namun sudah masuk ke perutku. Setiap kali aku isi perut ini sepertinya tidak mau diajak kompromi lagi. Keadaan ini sudah berlangsung sekitar sebulan lamanya. Dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa pasrah kepada Allah. Pekerjaan sebagai dosen terpaksa aku tinggalkan beberapa saat. Ibaratnya aku sudah jadi seorang pensiunan, yang hanya tinggal di rumah.
Karena tidak mengajar itulah, aku menjalani pengobatan di rumah saja. Kalau pas tidak kumat, sepertinya tidak masalah, namun kalau pas kumat, sakitnya minta ampun. Biasanya kalau pagi hari aku bisa melaksanakan aktifitas sehari-hari khususnya yang ringan-ringan seperti nyapu halaman, nyapu rumah dll. Pokoknya seperti orang yang sudah pensiun, namun kalau pas kumat, rasanya bukan main. Bahkan pada waktu itu mata ini sudah tidak bisa untuk melihat, barang yang dilihat sudah buyar dan kabur. Akupun sempat ketergantungan kepada obat.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku memputuskan untuk mengarahkan anak-anakku bisa hidup mandiri. Meskipun masih sangat dini, namun keputusanku tetap aku jalankan. Dengan mandiri tersebut, mudah-mudahan nanti hidupnya tidak menggantungkan terlalu banyak dengan orang tua. Seperti untuk sholat saja, anakku yang pertam aku latih untuk menjadi imam. Sedangkan anakku yang kedua dan ketiga supaya mengikuti apa yang dijalankan oleh anakku yang pertama tersebut. Alhamdulillah anak-anakku juga tidak rewel dan sepertinya mengerti kalau aku sebagai bapaknya sedang terkena penyakit.
Karena penginnya untuk sembuh aku mencoba mengkonsumsi obat-obatan yang untuk hitungan orang Jawa termasuk sangat mahal. Coba bayangkan setiap hatinya obat yang harus aku minum setiap minum harnganya mencapai Rp 18 ribu padahal dalam sehari minum 3 kali, berarti biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 75.000.
Karena keadaan diriku yang semakin parah itulah, maka aku memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif. Padahal aku sendiri sebelumnya kurang yakin dengan keampuhan penyembuhan alternatif tersebut, apalagi bila dilihat secara akal sehat, sepertinya penyembuhan alternatif hanya isapan jempol belaka. Aku agak ragu juga apa benar, ramuan pak Juanda bisa menyembuhkan penyakitku tersebut?
Untuk memutuskan mengikuti terapi ke pak Juanda, terus terang saja aku membutuhkan waktu sebulan lamanya. Padahal dalam kurun waktu sebulan tersebut, penyakitku sudah sangat parah dan obat-obatan sudah tidak ada yang mampu untuk mengobati penyakitku tersebut. Aku masih ingat betul, waktu itu aku malah sudah diisolasi oleh pihak keluargaku. Aku dipisahkan dari seluruh keluargaku. Ayahku menyuruhku untuk menempati lantai dua, sedangkan anak dan istriku, serta orang tuaku menempati lantai satu. Ini dilakukan karena melihat kondisi badanku yang sudah sangat payah, jangan sampai anak dan istriku ataupun orang tuaku tertular penyakit yang memang waktu itu masih misterius tersebut.
Setelah sebulan dalam perenungan tersebut, akhirnya aku putuskan untuk mencoba. Selama ini mengkonsumsi obat dari medis namun tidak ada hasilnya. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau aku mencoba pengobatan alternatif pak Juanda. Anak teman istriku saja bisa disembuhkan dari terapi tersebut. Mudah-mudahan Allah juga menyembuhkan penyakitku tersebut lewat perantaraan pak Juanda.
Setelah mantap, aku bertemu pak Juanda, dan mengatakan maksud kedatanganku, bahwa aku ingin berobat penyakit Toxo. Oleh pak Juanda langsung disarankan untuk mengikuti terapi penyembuhan dengan jangka waktu sekitar tiga bulan pertama. Jelasnya selama tiga bulan aku disuruh meminum ramu-ramuan dari pak Juanda. Demi kesembuhan penyakitku tersebut maka aku langsung setuju saja. Bahkan pak Juanda menyarankan untuk menghentikan meminum obat-obatan dari medis. Periksa tetap di laksanakan, namun untuk obatnya supaya tidak usah diminum (dibeli di apotek).
Setengah bulan minum ramuan dari pak Juanda, aku tidak percaya kalau penyakitku berangsur-angsur sembuh. Buktinya sebelum aku minum obat, hampir setiap hari aku sakit pusing, perut mau muntah, dan mata selalu kabur untuk melihat. Namun setelah meminum hampir setengah bulan saja, sepertinya ada perubahan-perubahan yang sangat aneh. Badan terasa lebih segar dari sebelumnya, perut sudah jarang mules-mules, kepala juga jarang kumat, mata untuk melihat malahan lebih terang.
Karena adanya perubahan yang banyak tersebut, aku putuskan untuk meneruskan terapinya tersebut. Hingga akhirnya aku putuskan untuk meminum ramu-ramuan dari pak Juanda selama minimal tiga bulan dulu. Setelah tiga bulan aku akan periksa laboratorium mengenai hasil terapi tersebut.
Menginjak bulan pertama terapi, aku juga sudah banyak mengalami perubahan-perubahan yang sangat banyak. Kalau setengah bulan sebelumnya sudah tidak banyak kumat, namun sebulan kemudian dalam sehari tidak tentu. Kadang kumat kadang tidak, badan juga terasa segar bugar dan sepertinya sehat walafiat. Hingga akhirnya setelah tiga bulan menjalani terapi, aku beranikan diri untuk menjalani pemeriksaan lab. Hasilnya diluar dugaan, ternyata aku dinyatakan negatif terhadap penyakit Toxo tersebut. Aku jadi tidak menyangka kalau sebelumnya aku merasa ragu untuk beralih ke pengobatan alternatif, namun ternyata setelah menjalani terapi malah penyakitku sudah sembuh.
Meskipun penyakitku sudah sembuh, bukan berarti aku berhenti menjalani terapi, namun juga tetap meminum ramu-ramuan dari pak Juanda, hingga mencapai bulan ke 5. Ini aku lakukan dengan harapan penyakit yang aku derita benar-benar sudah sembuh dan tidak kambuh lagi. Untuk pencegahan penyakit tersebut ke seluruh keluargaku, maka aku putuskan juga untuk memeriksakan anak dan istriku ke Lab. Hasilnya sungguh diluar dugaan, sebelumnya aku ragu, jangan-jangan seluruh keluargaku terkena Toxo, namun hasilnya malah sebaliknya, anak dan istriku negatif terhadap Toxo. ***