Beranda arrow Buletin Tarbiyah arrow 085 Ridha Dalam Pengaturan Allah
Newsflash

Jadwal Praktik 2010

Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Virus Toxo Memang Kejam
@ Dee: Alamat Pak Juanda
Kantor Pusat: Jln. SUTIRAGEN IX NO. 6,...
24/07/10 19:30 Selengkapnya...
Oleh: Khoirul Anam / Admin

Virus Toxo Memang Kejam
pengobatan alternatif
Selamat atas karunia yg telah diterima,...
23/07/10 05:50 Selengkapnya...
Oleh: dee

SEMBUH DARI RADANG OTAK
@ a: SubhanalLah...
SubhanalLah wal hamdulilLah. "Setiap...
14/07/10 20:59 Selengkapnya...
Oleh: Khoirul Anam / Admin

SEMBUH DARI RADANG OTAK
a
:upset :upset :eek :eek :eek :eek ...
14/07/10 09:13 Selengkapnya...
Oleh: a

Mau Cepat Hamil?
Kenapa Ya?
:)
21/06/10 03:21 Selengkapnya...
Oleh: Suhedot

Jadwal Terbaru
Thu, Aug 5th, 2010, @8:00am - 01:00PM
PURWOKERTO
Thu, Aug 5th, 2010, @8:00am - 01:00PM
Tasikmalaya
Sat, Aug 7th, 2010, @8:00am - 01:00PM
Jogjakarta
085 Ridha Dalam Pengaturan Allah PDF Print E-mail
Wednesday, 28 May 2008
 

Ridha Dalam Pengaturan Allah

Oleh : Abu Muhammad Fadhlillah Ramadhani


Hidup ini harus dipahami sebagai sebuah perjalanan, dari suatu ruang dan waktu, dari suatu tempat atau alam yang satu lalu pindah menuju ke alam yang lain. Sebelum manusia hidup di dunia, ia telah melewati dua alam, yakni alam al-ruh dan alam al-rahim. Ketika manusia berada pada dua alam (al-ruh dan al-rahim), tidak ada yang mengetahui keadaannya saat itu, sehingga ia tidak dapat menggambarkan atau menjelaskannya.

Proses Penciptaan Manusia

Kecuali pada alam al-rahim, kita diberi informasi lewat firman Allah SWT tentang proses penciptaan manusia. Yang diawali dengan penciptaan Adam dari tanah liat lalu ditiupkan ruh oleh Allah (ruhullah). Lalu Adam memohon kepada Allah agar ia diberi pasangan hidup. Permohonan Adam dikabulkan Allah, lalu Allah menciptakan Hawa dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri.

Singkat cerita, setelah Adam dan Hawa hidup bersama (suami-istri), di sinilah kemudian terjadi proses penciptaan manusia yang berasal dari air sperma Adam (ayah) bertemu dengan air ovum Hawa (ibu). Pertemuan sperma dan ovum tersebut berproses hingga 40 hari lamanya lalu berubah menjadi segumpal darah. Dari segumpal darah tersebut berproses menjadi segumpal daging, lalu dilengkapi dengan tulang-belulang sedemikian rupa sehingga berbentuk manusia. Setelah sekitar empat bulan di alam rahim, kemudian Allah meniupkan ruh (ruhullah) pada janin sehingga ia bernyawa, hidup dan mulai ada gerakan. Rata-rata sekitar 9 bulan 10 hari umur janin di alam rahim kemudian siap-siap lahir ke dunia.

Menjelang kelahiran manusia, Alllah terlebih dahulu metetapkan 3 hal yakni : umur, rezki dan jodohnya di dunia. Setelah umur, rezki dan jodohnya sudah disempurnakan sesuai ketetapan Allah, manusia kemudian siap-siap melanjutkan perjalanannya ke alam kubur (barzah) melalui pintu kematian.

Manusia melewati pintu kematian secara variatif. Ada di antaranya yang melewatinya dengan nikmat, itulah orang-orang mukmin yang banyak melakukan kebajikan dan amal shaleh.  Tetapi ada juga yang melewatinya dengan tersiksa bagaikan melewati lubang jarum, ada juga yang melewatinya bagaikan domba yang disembelih lalu dikuliti, dan ada pula yang melewatinya bagaikan berjalan di atas duri, itulah kematian orang-orang kafir yang banyak melakukan kejahatan dan kemaksiatan  di dunia.

   Jadi manusia hidup di dunia sifatnya sementara saja untuk mempersiapkan bekal berupa amal shaleh yang nantinya menjadi sahabat yang paling setia terus menemani dalam perjalanan selanjutnya menuju alam kubur (barzah), hingga alam akhirat yang terdiri dari : padang mahsyar, jembatan sirat, dan hari hisab. Semua itu bisa dilewati dengan selamat oleh orang-orang mukmin yang secara sukarela, tulus ihklas dan bersungguh-sungguh menjalankan segala perintah-Nya, serta bersungguh-sungguh menjauhi segala larangan-Nya.

Ridha Menerima Pengaturan-Nya

Dalam Al Hikam, Syeikh Ibn Athaillah As-Sakandari bertutur,“ Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti dari rabunnya mata batinmu.” Karena itu’ “ Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu, karena segala yang telah diurus oleh “Selainmu (yakni Allah), tak perlu engkau turut mengurusnya.”

Lagipula, “Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir.” Maksudnya, seberapa banyak pun energi yang kita curahkan untuk memenuhi sesuatu keinginan, tetap saja itu tak akan tergapai jika tak sesuai dengan keputusan Allah. Kita tak dapat memenangkan kehendak kita di atas kehendak-Nya. Kita bahkan kerap menemukan bahwa takdir dan ketentuan yang berlaku pada diri manusia bukanlah yang sesuai dengan pengaturan olehnya. Pengaturan manusia ibarat rumah pasir di tepi laut, yang bisa demikian mudah runtuh tatkala ombak takdir Tuhan berlabuh.

Dalam hidup, kita juga acap menemukan bahwa apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan, dan sebaliknya, apa yang kita sangka buruk ternyata malah mendatangkan kebaikan. Boleh jadi ada keuntungan di balik kesulitan, dan ada kesulitan di balik keuntungan. Boleh jadi pula kerugian muncul dari kemudahan, dan kemudahan muncul dari kerugian. Mana yang berguna dan mana yang berbahaya pada akhirnya adalah sesuatu di luar pengetahuan kita.

Oleh sebab itu, sibuk mengatur nasib sendiri sejatinya adalah tindakan yang kurang lebih sia-sia, apalagi bila kesibukan itu melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba Allah. Lucu sekali bila manusia tetap berhasrat akan pengaturan dirinya. Mengapa demikian? Setidak-tidaknya ada dua alasan : Pertama, karena ia pada dasarnya tak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Dan kedua, karena Allah Yang Maha Mengatahui apa yang terbaik bagi para mahluk-Nya senantiasa dekat dan mengatur secara baik.

Allah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari kedua urat leher kita. Oleh karenanya, Allah senantiasa memberi perhatian kepada hamba-Nya sekali pun tanpa sepengatahuannya. Pengaturan terhadap diri kita, sebenarnya merupakan bukti ketidaktahuan kita akan pengaturan Allah yang baik terhadap diri kita. Hal ini juga merupakan bukti minimnya cahaya makrifat di hati kita. Sikap sibuk mengatur urusan diri sebagai bentuk Syirik Rububiyah, berarti meyakini  ada pengatur lain yang turut mengurus kehidupan selain Allah.

Mereka yang memelihara kesopanan kepada Allah dan tidak ingin jauh dari-Nya, tentu akan mencoba menggugurkan tadbir dan iradah mereka yang membuat hijab (tabir) dari Allah. Mereka akan keluar dari gelapnya tadbir (sikap mengatur diri) menuju terangnya tafwidh, yakni penyerahan urusan atau pilihan hidup kepada Allah hingga mereka menyaksikan bahwa dirinya diatur dan tidak turut mengatur, ditentukan dan tidak ikut menentukan, serta digerakkan dan tidak bergerak sendiri. Untuk ini diperlukan sikap ridha dengan pengaturan Allah. Rasa berat hati hanya akan membuat hati tetap terhijab dari cahaya Allah. Selain itu diperlukan pula sikap selalu berbaik sangka kepada Allah. Sebab Allah lebih tahu mengenai apa yang terbaik buat hamba-Nya. Ia pun sudah berjanji bahwa siapa bertawakal kepada-Nya, Dia akan mencukupinya. Lebih dari ridha dan berbaik sangka, mereka juga akan senang dan mencintai segala kehendak dan keputusan Allah, Sang Pemilik Anugerah.

Kepasrahan Kepada-Nya

Kepasrahan atau keberserahan diri kepada pengaturan dan kehendak Allah tidaklah sama dengan berhenti bekerja, berhenti mencari rejeki, atau pun berhenti berdoa, lantaran menyerahkan semuanya kepada Allah. Yang membedakan mereka adalah cara mereka memandang, merasa dan menyikapi hidup. Kepasrahan dalam hal ini sebetulnya adalah juga mengajarkan mengenai kecerdasan emosional-spiritual, yang membuahkan beberapa sikap hati berikut ini :

Pertama, ketidak risauan akan sarana-sarana penghidupan. Sikap ini penting agar tidak dipenuhi perasaan cemas, khawatir, gundah, dan gelisah yang menempatkan hidup kita selalu dalam tekanan. Tak hanya itu, ketenangan itu sendiri juga penting demi kesuksesan kita meraih sarana-sarana penghidupan.

Kedua, Ketidak bergantungan pada amal atau usaha. Kebergantungan pada perbuatan atau daya upaya acap kali berbuntut keputus-asaan dan frustasi pada saat kendala dan kegagalan ditemui. Dengan bergantung kepada Allah, kita bisa terhindar dari keputus-asaan yang mencelakakan. Bersandar kepada-Nya membuat kita selalu bangkit dan selamat dari perasaan terpuruk.

Ketiga, Keridhaan pada kenyataan. Kekecewaan, kekesalan, dan ketidak puasan pada kejadian-kejadian yang menimpa hanya akan menguras energi kita yang sebetulnya bisa kita gunakan untuk suatu yang positif. Dengan ridha pada kenyataan, segetir apapun itu, kita akan selalu siap menghadapinya dan meresponnya secara wajar dan berguna.

Keempat, Keberharapan atau optimisme hidup. Dengan bersandar kepada Allah, dan percaya bahwa Dia selalu memberikan yang terbaik, kita melipat gandakan rasa optimis kita terlepas dari betapa buruk hal-hal yang menimpa kita dimata orang. Dengan tak pernah lalai bahwa Allah Maha Menolong dan Maha Kuasa, dengan tak pernah kehilangan rasa butuh kepada-Nya, kita menjadi terbebas dari penjara keterbatasan, dan merasa lapang sekali pun dikepung oleh berbagai ketidak mungkinan serasa menjadi pemenang dalam hidup selamanya.

Sikap mengatur dan menginginkan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah SWT merupakan hijab yang paling kuat dari Sang Pencipta. Karenanya, jiwa ini baru menjadi baik ketika keluar dari pilihan diri sendiri menuju pilihan Allah.

Jika ridha kepada Allah, kita akan pasrah dan mematuhi segala perintah dan keputusan-Nya. Ketika itulah kita merasa tentram dengan hukumnya dan menyerahkan seluruh ketentuan kepada-Nya.

Kendati demikian tidak semua sikap mengatur tercela. Ada juga mengatur yang terpuji yakni yang mendekatkan hamba kepada Allah sekaligus mengantarnya menuju ridha-Nya. Mengatur yang tercela adalah yang mencari dunia untuk dirinya sendiri bukan karena Allah, jadi untuk dunianya semata, dan bukan untuk akhiratnya.

Allah Yang Maha Kuasa seakan-akan berkata, ”Wahai hamba-Ku, siapakah zat yang telah mengatur urusanmu ketika kau berada dalam kegelapan rahim? Siapakah yang telah mengurusmu setelah keluar dari rahim ibumu?. Dia mengurusmu melalui karunia dan pemeliharaan-Nya ketika kau masih kecil. Lalu, setelah besar kau ingin mencampuri urusan-Nya? Wahai hamba-Ku, pilihlah Aku! Janganlah engkau memilih selain-Ku! Dengan begitu, Aku akan memperlihatkan kepadamu kelembutan dan kebaikan-Ku yang menakjubkan. Wahai hamba-Ku, mungkinkah Aku menciptakan mahluk lalu Kuserahkan mereka kepada selain-Ku? Sementara, Akulah Zat Yang memberi karunia kepada semua makhluk-Ku.”

Karena itulah para nabi dan para arif senantiasa menyerahkan pengaturan dirinya kepada Allah SWT. Sikap pasrah, patuh, dan ridha menerima keputusan-Nya itulah yang menjadi ciri utama mereka. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
 6          YU2      
25     M    O     6CQ
 K    T3X   JE5      
 O     1    F M   AUI
OXE         8OC      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >