Memperoleh momongan, merupakan dambaan bagi setiap pasangan muda yang baru menikah. Begitupun saya, Ny Nia sebut saja demikian, setelah menikah pada tahun 1999 dengan mas Bambang Sugeng Riyanto, 2 bulan kemudian saya hamil. Betapa gembiranya saya ataupun mas Bambang waktu itu. Kegembiraan inipun sempat sampai ke kedua orang tuaku ataupun orang tua mas Bambang. Harapan untuk memperoleh cucu pertama rupa-rupanya bisa kesampaikan dengan hamilnya saya tersebut. Bahkan menurut informasi dari kakakku, sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran cucu yang pertama, (kebetulan kakakku belum menikah) orang tuaku akan mengadakan selamatan massal di desa.
Aku, Komang Tri Gustoro, pekerjaan wiraswasta, tinggal di Bogor, tidak mengira kalau perjalanan rumah tanggaku akan mendapatkan cobaan-cobaan yang sangat berat. Padahal sebelum aku menikahi Trisnaningsih sepertinya tidak ada tanda-tanda ada kelainan baik diriku ataupun istriku. Semuanya sepertinya berjalan biasa-biasa saja. Namun setelah pernikahanku dengan Trisnaningsih yang dilaksanakan pada 1994 lalu itulah, rupanya cobaan dari Allah SWT mulai menimpa keluargaku. Berbagai cobaan selalu menimpa keluargaku anehnya cobaan tersebut justru menimpa kepada anakku yang sekaligus sebagai generasi penerusku kelak.
Hati siapa yang tidak sedih kalau tiba-tiba saja anak yang diidam-idamkan mengalami keguguran padahal usia kandunganku waktu itu sudah memasuki bulan ke-6. Ini berarti janinku sudah berujud bayi. Padahal semenjak pernikahanku dengan mas R Muhammad Maulana yang bekerja di IPB pada tahun 1997, sudah mendambakan hadirnya jabang bayi di rumah kami. Namun sepertinya Allah belum mengizinkan kami untuk memperoleh momongan tersebut.